Friday, October 16News That Matters

Suroso Isnandar jadi Dirut Baru, Komisaris Andi Arief Optimis Lanjutkan Transformasi PLN


Wacana Berita, Jakarta –

Pergantian Direktur Utama PT PLN (Persero) diharapkan tidak mengganggu kesinambungan transformasi perusahaan, terutama dalam pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT). Kepemimpinan baru dinilai perlu melanjutkan program yang telah dirintis sekaligus mempercepat realisasi proyek pembangkit.

Komisaris Independen PLN Andi Arief menilai peralihan kepemimpinan dari Darmawan Prasodjo kepada Suroso Isnandar merupakan hal yang wajar dalam dinamika organisasi perusahaan.

Menurut Andi, Darmawan telah menduduki sejumlah posisi strategis di PLN selama bertahun-tahun, mulai dari komisaris, wakil direktur utama, hingga direktur utama. Karena itu, pergantian tersebut merupakan bagian dari proses organisasi yang normal.

“Kalau menurut saya, pergantian ini biasa saja. Pak Darmawan Prasodjo sudah cukup lama di PLN. Beliau pernah menjadi komisaris, wakil direktur utama, kemudian direktur utama,” ujar Andi saat ditemui redaksi, Kamis (15/10/2026).

Ia menegaskan, perubahan kepemimpinan tidak seharusnya menjadi penghambat transformasi yang telah berjalan. Sebaliknya, direktur utama baru diharapkan menjaga kesinambungan berbagai perubahan di tubuh PLN.

Andi menilai pengalaman Suroso di lingkungan perusahaan menjadi modal untuk melanjutkan agenda tersebut. Pada masa kepemimpinan Darmawan, Suroso pernah menjabat sebagai direktur manajemen risiko, kemudian direktur yang menangani manajemen proyek dan energi baru terbarukan.

“Ini menjamin continuity. Transformasi yang sudah dilakukan Pak Darmawan Prasodjo, dengan banyak perubahan di PLN, diharapkan bisa dilanjutkan oleh Pak Suroso. Jadi, menurut saya, tidak ada masalah dengan pergantian ini,” katanya.

Selain menjaga kesinambungan transformasi, PLN menghadapi tantangan besar dalam mendukung transisi energi nasional. Pengembangan energi terbarukan diperkirakan menjadi salah satu fokus utama pembangunan sektor ketenagalistrikan dalam beberapa tahun ke depan.

Andi merujuk pada rencana pengembangan kapasitas pembangkit hingga 2034. Dalam rencana tersebut, pembangunan kapasitas pembangkit baru disebut mencapai sekitar 59 gigawatt (GW), dengan porsi energi terbarukan ditargetkan sekitar 70 persen.

“Kalau kita melihat rencana sampai 2034, sekitar 70 persen dari pembangunan pembangkit yang direncanakan merupakan energi terbarukan. Karena itu, ke depan kita akan membangun berbagai sumber energi, mulai dari tenaga surya, air, angin, hingga nuklir,” ujar Andi.

Menurutnya, pengembangan energi terbarukan tidak cukup hanya dengan menetapkan target. PLN juga membutuhkan perencanaan proyek yang matang, kesiapan infrastruktur, serta kepastian regulasi agar pembangunan dapat berjalan sesuai kebutuhan.

Terkait pembangkit listrik tenaga nuklir, Andi mengatakan realisasinya masih menunggu kebijakan pemerintah. Ia turut menyinggung kemungkinan pembangunan pembangkit nuklir di wilayah Jawa dengan mempertimbangkan tingginya kebutuhan listrik di kawasan tersebut.

Meski demikian, penentuan lokasi dan pelaksanaan proyek tetap membutuhkan kajian serta keputusan resmi pemerintah.

Andi juga menyoroti kesiapan proyek-proyek ketenagalistrikan yang telah masuk dalam perencanaan PLN. Ia menyebut terdapat lebih dari 700 proyek yang perlu dipersiapkan untuk memasuki tahap pelaksanaan.

Proses tersebut mencakup penyelesaian perencanaan, pemenuhan prosedur, hingga tender sebelum pembangunan dapat dimulai.

“Sekarang ada lebih dari 700 proyek yang sudah dirancang. Ada prosedur yang harus diselesaikan, mulai dari perencanaan sampai tender. Setelah itu, pembangunan pembangkit bisa mulai berjalan secara bertahap,” katanya.

Ia memperkirakan sejumlah proyek pembangkit mulai dibangun pada 2027. Realisasi proyek-proyek tersebut diharapkan memberikan dampak terhadap perekonomian melalui peningkatan investasi, pembangunan infrastruktur, serta kebutuhan barang dan jasa.

Menurut Andi, percepatan pembangunan pembangkit harus sejalan dengan pertumbuhan kebutuhan listrik nasional. Pasokan listrik yang memadai menjadi salah satu faktor penting untuk menopang aktivitas industri dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pergantian direktur utama juga menjadi momentum untuk memastikan strategi PLN tetap sejalan dengan kebijakan energi pemerintah. Andi menyinggung arahan Presiden Prabowo Subianto mengenai percepatan transformasi PLN, khususnya dalam pengembangan energi terbarukan.

Dalam konteks tersebut, pengalaman Suroso di bidang manajemen proyek dan energi baru terbarukan dinilai relevan untuk mengawal pelaksanaan program yang telah direncanakan.

Baca Juga: Bahlil Tepis Isu Pergantian Dirut PLN Akibat Blackout di Batam

Namun, tantangan kepemimpinan baru tidak hanya terletak pada penyusunan rencana. PLN juga perlu memastikan proyek dapat direalisasikan tepat waktu, sesuai kebutuhan sistem kelistrikan, serta memperhatikan efisiensi dan keberlanjutan.

“Yang penting adalah transformasi yang sudah berjalan tetap dilanjutkan dan percepatan pembangunan pembangkit bisa dilakukan. Kita berharap proyek-proyek yang sudah direncanakan dapat segera masuk tahap pembangunan,” ujar Andi.

Dengan demikian, pergantian direktur utama diharapkan tidak mengubah arah strategis PLN secara mendasar. Fokus perusahaan selanjutnya adalah menjaga kesinambungan transformasi, mempercepat pelaksanaan proyek pembangkit, dan memperkuat peran energi terbarukan dalam memenuhi kebutuhan listrik nasional.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *