
Kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga 11,20% menjadi perhatian pelaku pasar. Penurunan tajam ini terjadi di tengah kekhawatiran mengenai kemungkinan perubahan status pasar saham Indonesia dalam indeks global MSCI.
Pada perdagangan tersebut, IHSG anjlok 656,84 poin ke level 5.206,94. Pelemahan juga terjadi di seluruh 11 indeks sektoral Bursa Efek Indonesia (BEI), yang kompak berada di zona merah.
Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai rencana perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market berpotensi memberikan dampak besar terhadap pasar modal dalam negeri.
Menurut Nafan, salah satu risiko utamanya adalah berkurangnya porsi saham Indonesia dalam portofolio investor institusional global yang menggunakan indeks MSCI Emerging Markets sebagai acuan investasi.
“Perubahan tersebut berpotensi mengurangi eksposur saham Indonesia dalam portofolio investor institusional internasional yang menggunakan indeks MSCI Emerging Markets sebagai acuan,” ujar Nafan dalam keterangan resminya, Jumat (16/10/2026).
Ia menjelaskan, jika perubahan status tersebut memicu investor global menyesuaikan portofolio secara bersamaan, tekanan jual saham bisa semakin besar. Saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps berpotensi paling terdampak karena memiliki bobot besar dalam indeks dan banyak dimiliki investor asing.
“Jika terjadi penyesuaian portofolio secara serentak, tekanan jual berpotensi terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki bobot indeks signifikan dan kepemilikan asing tinggi,” katanya.
Baca Juga: Apa Itu Standalone Market MSCI? Status yang Mengancam Pasar Saham RI
Baca Juga: OJK Buka Suara soal Ancaman MSCI Turunkan Status Pasar RI
Baca Juga: MSCI Ancam Turunkan Status Pasar Saham RI, Ini Respons BEI
Nafan menambahkan, tekanan jual tersebut dapat membuat pergerakan harga saham semakin bergejolak dan meningkatkan risiko pelemahan IHSG. Risiko ini bisa semakin besar jika rupiah ikut melemah dan dana investor asing terus keluar dari pasar saham Indonesia.
Dengan demikian, penurunan IHSG bukan hanya persoalan pelemahan indeks dalam jangka pendek. Pelaku pasar juga perlu memperhatikan respons investor global terhadap kemungkinan perubahan status Indonesia dalam klasifikasi MSCI.
Meski begitu, Nafan menegaskan bahwa besarnya dampak terhadap pasar modal Indonesia masih bergantung pada keputusan akhir MSCI, jadwal penerapan kebijakan, serta kemampuan investor domestik menyerap tekanan jual.
