
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Kamis (15/10/2026). Mata uang Garuda terparkir Rp17.938 atau melemah 35 point dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.903 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan pelemahan ini dipicu beberapa faktor. Pasar saham indonesia menghadapi tekanan menjelang evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada November 2026.
Bobot Indonesia dalam MSCI Emerging Markets diperkirakan hanya sekitar 0,43% pada akhir September, sementara investor mencermati risiko penurunan klasifikasi pasar, kelanjutan pembekuan saham, dan perkembangan reformasi pasar modal.
“Keputusan ini akan bergantung pada bukti bahwa reformasi pasar modal Indonesia berjalan efektif,” kata Ibrhaim kepada wartawan.
Selain itu, implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) dalam dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran dinilai belum memberikan hasil yang memuaskan. Di sisi lain, biaya dan risikonya justru dikhawatirkan semakin mengancam keuangan negara.
“Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai lembaga pengelola MBG maupun pihak terkait lain, tidak mempublikasikan data kepada publik mengenai dampak MBG terhadap penurunan stunting, sebagaimana tujuan utamanya,” terang dia.
Baca Juga: Inflasi AS dan Konflik Timur Tengah Tekan Rupiah, BI Lakukan Intervensi Pasar
Baca Juga: BI Klaim Pelemahan Rupiah Masih Sejalan dengan Pergerakan Mata Uang Regional
Alih-alih membuktikan melalui penelitian sendiri, pemerintah memilih meminjam penelitian-penelitian lain untuk meyakinkan bahwa skema memberikan makan gratis mampu menurunkan angka stunting.
“Pemerintah mungkin kesulitan melakukan evaluasi terhadap gizi anak-anak yang mengonsumsi MBG. Namun, saat bersamaan, terdapat biaya dan risiko yang harus dibayar mahal,” ujar dia.
