
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau ANTAM membukukan laba bersih Rp6,91 triliun pada semester I-2026, tumbuh 34% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja tersebut ditopang pertumbuhan bisnis mineral dan kontribusi hilirisasi, termasuk dari proyek pengolahan alumina yang mulai memberikan setoran laba kepada perseroan.
Analis Phintraco Sekuritas Indra Setyadi menilai pengembangan hilirisasi pada ekosistem baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan aluminium menjadi katalis bagi kinerja ANTAM ke depan. Perkembangan proyek hilir dinilai berpotensi memperkuat kontribusi laba sekaligus mendukung prospek saham ANTM.
Dalam laporan riset yang dikutip Rabu (14/10/2026), Phintraco Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham ANTM dengan target harga Rp4.840 per saham. Target tersebut mengindikasikan potensi kenaikan sekitar 56%.
Dari sisi operasional, ANTAM membukukan pendapatan Rp62,71 triliun pada semester I-2026, meningkat sekitar 6,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kontribusi pendapatan terbesar masih berasal dari segmen emas, diikuti nikel serta bauksit dan alumina.
Salah satu perkembangan penting berasal dari Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah di Kalimantan Barat. Proyek yang dikelola PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), perusahaan patungan ANTAM dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), telah beroperasi dan mencatat penjualan 350.000 ton alumina pada semester I-2026.
ANTAM menargetkan penjualan alumina dari proyek tersebut mencapai 700.000 ton hingga akhir 2026. SGAR fase I memiliki kapasitas produksi 1 juta ton per tahun.
Analis Phintraco Sekuritas Indra Setyadi mengatakan, operasional SGAR telah memberikan kontribusi laba kepada ANTAM melalui BAI.
“SGAR telah memberikan kontribusi laba Rp257,6 miliar ke ANTM melalui PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) pada semester I-2026. Ke depan, potensi setoran laba meningkat seiring peningkatan produksi,” ujar Indra.
Sesuai rencana, sekitar 550.000 ton alumina dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan domestik Inalum, sedangkan sekitar 450.000 ton ditujukan untuk pasar ekspor. Pembagian tersebut menempatkan SGAR sebagai bagian dari rantai pasok alumina untuk kebutuhan dalam negeri sekaligus pasar internasional.
Operasional SGAR turut meningkatkan kebutuhan bijih bauksit dari tambang ANTAM. Pada semester I-2026, penjualan bauksit perseroan naik 24,4% menjadi sekitar 1,3 juta wet metric ton (wmt).
Di segmen hilir lainnya, penjualan feronikel meningkat 32% menjadi sekitar 7.600 ton nikel, sedangkan penjualan chemical grade alumina naik 10,2% menjadi sekitar 100.400 ton.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan peningkatan penjualan di sejumlah lini mineral dan produk olahan ANTAM. Namun, emas masih menjadi kontributor pendapatan terbesar perusahaan pada semester I-2026.
Indra memperkirakan laba bersih ANTAM sepanjang 2026 dapat mencapai sekitar Rp11,6 triliun, tumbuh 61,6%. Proyeksi tersebut mempertimbangkan pertumbuhan EBITDA dan peningkatan kontribusi laba entitas asosiasi, terutama BAI.
Phintraco Sekuritas juga memperkirakan valuasi saham ANTM berada pada rasio harga terhadap laba (price to earnings ratio/PER) sekitar 10 kali untuk 2026 dan 9,6 kali untuk 2027 berdasarkan target harga yang ditetapkan.
Meski demikian, target harga Rp4.840 dan potensi kenaikan 56% merupakan estimasi analis, bukan jaminan imbal hasil bagi investor.
Selain aluminium, ANTAM melanjutkan pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik. Indra menyebut proyek rotary kiln electric furnace (RKEF) telah memasuki tahap engineering, procurement, and construction (EPC), sementara proyek high pressure acid leach (HPAL) berada dalam tahap persetujuan investasi.
Baca Juga: ANTAM Hadirkan ATM Emas di Konser Snada Indonesia 2026, Pengunjung Bisa Beli Emas Langsung
Baca Juga: Inalum Buka Suara soal Rencana Akuisisi Tambang Bauksit Antam
Baca Juga: Antam Luruskan Isu 109 Ton Emas, Tegaskan Bukan Kasus Emas Palsu
ANTAM menargetkan pembentukan rantai nilai baterai kendaraan listrik yang terintegrasi dengan dukungan mitra strategis. Perusahaan juga menyebut fasilitas manufaktur sel baterai di Karawang mulai beroperasi pada 2026.
Direktur Strategi Hilirisasi dan Operasi Hilir ANTAM I Dewa Bagus Sugata Wirantaya mengatakan, pengembangan hilirisasi diarahkan untuk menghubungkan sumber daya mineral perseroan dengan industri pengolahan hingga produk hilir.
“ANTAM terus mengembangkan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral yang kami miliki. Di ekosistem baterai kendaraan listrik, fasilitas manufaktur sel baterai di Karawang telah mulai beroperasi pada 2026. Pada komoditas bauksit, perkembangan ekosistem alumina menjadi penguatan rantai nilai bauksit hingga alumina, menjadi bagian penting dari upaya kami membangun portofolio bisnis yang semakin terintegrasi dan terdiversifikasi,” ujar Dewa.
