
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menilai keterbatasan dan tingginya harga lahan masih menjadi tantangan utama dalam pengembangan perguruan tinggi di DKI Jakarta.
Pernyataan tersebut disampaikan Pramono usai meresmikan Universitas Ciputra Jakarta di Jakarta Barat, Kamis (15/10/2026). Ia menjelaskan, kebutuhan akan lahan yang luas untuk pembangunan institusi pendidikan tinggi cukup terkendala dengan mahalnya harga tanah di Ibu Kota.
“Persoalan lahan ini menjadi persoalan utama karena memang harga tanah di Jakarta sekarang ini karena kebutuhan dan juga karena pembangunan yang ada relatif tinggi,” ujar Pramono.
Baca Juga: Angka Kemiskinan Jakarta Cetak Rekor Baru, Pramono: Pertama Kali di Bawah 4 Persen
Guna menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta membuka peluang kerja sama bagi perguruan tinggi yang berencana membangun kampus di Jakarta. Pramono menegaskan, pemerintah daerah akan memberikan dukungan melalui kemudahan proses perizinan serta membuka ruang kolaborasi pemanfaatan lahan.
“Hal yang berkaitan dengan kemudahan untuk perizinan perguruan tinggi kita berikan. Sehingga dengan demikian, kalau bisa berkolaborasi, kami membuka ruang untuk itu, berkolaborasi membuat perguruan tinggi di Jakarta,” jelasnya.
Sementara itu, Managing Director Ciputra Group Harun Hajadi mengungkapkan bahwa pihaknya sempat menghadapi kendala serupa. Ia menyebut rencana pembangunan Universitas Ciputra Jakarta telah dirancang sejak lama, namun baru dapat direalisasikan saat ini akibat minimnya lahan di wilayah Ibu Kota.
“Saya sangat menghargai sekali bahwa kita bisa membangun kampus di Jakarta ini. Sudah lama memang kita ingin membangun kampus ini, tetapi baru kali ini kami mendapat kesempatan. Karena memang di DKI ini sulit sekali untuk mencari lahan yang cukup luas dan bisa dibangun kampus universitas,” tutup Harun.
