
Peran Ale dalam film Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati membuat aktor sekaligus komedian Benedictus Siregar melihat kesepian dan persoalan hidup dari sudut pandang yang berbeda. Pendalaman karakter dalam film adaptasi novel populer itu membawanya pada pemahaman bahwa pergulatan seseorang tidak selalu terlihat dari kehidupan sehari-harinya.
Belajar memahami pergulatan yang tak terlihat
Sebelum syuting dimulai, Benedictus atau Benny berdiskusi dengan seorang temannya yang berprofesi sebagai psikolog. Percakapan tersebut membantunya memahami sejumlah situasi dalam cerita yang sebelumnya ia anggap tidak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata.
“Ada beberapa hal yang enggak pernah aku alami, jadi buat aku, kayaknya ini enggak mungkin bisa terjadi dalam hidup. Tapi ternyata, memang ada kemungkinan ini sering terjadi,” kata Benny dalam konferensi pers di Jakarta, dikutip Antara, Senin (12/10/2026).
Dari pembicaraan itu, Benny menyadari bahwa persoalan yang tampak berat bagi seseorang belum tentu dipandang sama oleh orang lain. Sebaliknya, orang yang terlihat menjalani kehidupan biasa bisa saja menyimpan masalah dan pergulatan yang tidak mudah dihadapi.
Pengalaman tersebut menumbuhkan rasa syukur sekaligus empati dalam dirinya. Benny juga merasa memiliki kedekatan dengan Ale karena sama-sama memahami pengalaman kesepian dan kehilangan teman.
Menurut Benny, interaksi dengan orang lain dapat menjadi sumber tenaga untuk melewati hari-hari sulit. Percakapan tidak harus berlangsung dengan orang yang sudah lama dikenal. Pertemuan dan obrolan singkat dengan orang baru pun, kata dia, bisa membantu mengembalikan semangat.
“Yang bikin aku bertahan di hidup ini, aku pastikan adalah ngobrol sama orang-orang di sekelilingku. Enggak harus yang aku kenal, yang aku baru ketemu lagi, itu sudah bikin energiku kayak kembali lagi,” ujarnya.
Sempat khawatir gagal menghidupkan emosi
Di balik pemahaman yang ia dapatkan dari karakter Ale, Benny mengaku sempat merasa khawatir ketika mengikuti audisi. Ia takut aktingnya justru membuat penonton tertawa pada adegan yang seharusnya menyentuh emosi. Tanggung jawab sebagai pemeran utama juga sempat membuatnya merasa lebih nyaman apabila tidak mendapatkan peran tersebut.
Kekhawatiran itu muncul karena ia telah mengetahui rencana adaptasi novel tersebut ke layar lebar beberapa bulan sebelum audisi. Banyak orang membicarakan film itu dan menandai dirinya dalam percakapan terkait proyek tersebut. Situasi itu membuat Benny menyadari besarnya ekspektasi terhadap film yang akan tayang di bioskop pada 12 November 2026.
Keraguan tersebut berangsur mereda setelah proses produksi berjalan dalam suasana yang nyaman. Benny menyebut para pemain dan kru sebagai orang-orang yang ramah serta mengutamakan komunikasi yang tenang.
Ia juga menyampaikan kepada sutradara Kuntz Agus bahwa dirinya siap mengulang adegan beberapa kali apabila hasilnya belum sesuai harapan. Sikap itu diambil agar setiap adegan dapat dikerjakan sebaik mungkin dan sutradara tidak sungkan menyampaikan masukan.
Kisah Ale dan alasan untuk bertahan
Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati berkisah tentang Ale, seorang pria yang mengalami depresi berat akibat tekanan kehidupan. Kesepian yang mendalam membuatnya berniat mengakhiri hidup dalam waktu 24 jam.
Sebelum mengambil keputusan tersebut, Ale ingin menikmati seporsi mi ayam, makanan favoritnya. Keinginan sederhana itu kemudian mempertemukannya dengan berbagai orang dan membawa sejumlah peristiwa yang perlahan mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.
Benny berharap perjalanan Ale dapat mengingatkan penonton bahwa alasan untuk bertahan tidak selalu hadir dalam bentuk sesuatu yang besar. “Mudah-mudahan teman-teman di luar sana dan mungkin juga Ale, menemukan alasan untuk bertahan. Mungkin bukan sesuatu yang besar, mungkin sederhana, tapi lumayan ampuh untuk bertahan,” kata Benny.
