Wednesday, October 14News That Matters

Ekonomi Halal Tumbuh 5,5%, BI Incar Pembeli dan Investor Asing


Wacana Berita, Jakarta –

Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mendorong perluasan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia seiring pertumbuhan halal value chain atau rantai nilai halal yang mencapai 5,5% pada kuartal II 2026.

“Karena kita juga akan bicara keuangan syariah, di mana ini masih menjadi PR buat Indonesia. Ekonomi syariah, Alhamdulillah kalau kita lihat, kita sekarang sudah nomor 4 secara global,” ujar Destry dalam Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026, Rabu (14/10/2026).

Kendati demikian, Destry belum puas, ia mengatakan pengembangan ekonomi syariah perlu diperkuat melalui sinergi lintas kementerian dan lembaga, pelaku industri, akademisi, hingga komunitas usaha. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperluas manfaat ekonomi syariah bagi masyarakat.

“Kalau kita lihat dari laporan tadi, Indonesia berada di posisi keempat dunia. Tapi apakah ini kita puas? Insyaallah tidak,” kata Destry.

Menurut Destry, pengembangan ekonomi syariah tidak hanya berfokus pada negara dengan mayoritas penduduk muslim. Sistem ekonomi berbasis syariah juga memiliki peluang untuk berkembang secara global karena mengedepankan prinsip inklusivitas, keberlanjutan, dan keadilan.

“Jadi Amerika, Eropa, kenapa? Karena mereka melihat produk ini produk yang sustain. Dan ini yang membuat memang sekarang bergeser banyak dari investor juga bergeser, karena produk keuangan Sariah itu relatif stabil, karena dia punya underlyingnya,” imbuhnya. 

Ia menilai prinsip-prinsip tersebut relevan dengan kebutuhan dunia usaha modern. Karena itu, Indonesia perlu memanfaatkan potensi pasar yang dimiliki untuk memperkuat daya saing ekonomi syariah di tingkat internasional.

Destry juga menyoroti perkembangan keuangan syariah di kawasan ASEAN. Setelah Malaysia, Filipina dan Thailand disebut mulai mengembangkan sektor keuangan syariah secara agresif. Kondisi ini menjadi tantangan bagi Indonesia untuk memperkuat ekosistem yang telah dimiliki agar tidak kehilangan peluang pasar.

Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp17.882 per Dolar AS Terkerek Kebijakan Pro-Market Bank Indonesia

Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp17.894 per Dolar AS, Terkatrol Tiga Instrumen Bank Indonesia

Untuk mendorong pengembangan tersebut, BI mengandalkan sinergi dan transformasi digital. Dalam penyelenggaraan ISEF 2026, BI juga mempertemukan pelaku usaha dengan pembeli dan investor, baik dari dalam maupun luar negeri, melalui kegiatan business matching.

ISEF menjadi bagian dari upaya BI memperluas akses pasar bagi pelaku usaha, termasuk UMKM yang telah melalui proses kurasi dalam rangkaian kegiatan Road to Syariah di sejumlah wilayah Indonesia.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *