
CV Bumi Wijaya mengandalkan ikan sidat sebagai salah satu bahan utama dalam formulasi produk Gizidat yang memadukan madu, temulawak, dan ikan sidat. Pemilihan bahan baku tersebut didasarkan pada kandungan protein, lemak, serta mikronutrien yang dinilai berpotensi mendukung pengembangan produk pangan bernilai tambah.
Bumi Wijaya merupakan produsen jamu lokal yang beroperasi di Desa Gentasari, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Perusahaan memanfaatkan potensi nutrisi ikan sidat sebagai salah satu pembeda formulasi Gizidat di tengah pengembangan produk berbahan alami.
Aspek kandungan gizi menjadi salah satu pertimbangan dalam pemanfaatan ikan sidat untuk produk pangan. Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Gadis Sri Haryani, menyebut ikan sidat mengandung asam lemak omega-3, khususnya docosahexaenoic acid (DHA) dan eicosapentaenoic acid (EPA).
Berdasarkan data yang disampaikan BRIN, kandungan omega-3 ikan sidat disebut lebih tinggi dibandingkan salmon dan ikan gabus. Ikan ini juga mengandung vitamin A, vitamin B kompleks, zat besi, protein, dan fosfor.
Potensi tersebut turut menjadi perhatian kalangan akademisi. Peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Dewi Marhaeni Diah Herawati, misalnya, mengembangkan penelitian pemanfaatan ikan sidat dalam produk pangan fungsional.
Salah satu penelitiannya mengembangkan makanan tambahan berupa biskuit berbahan ikan sidat dan ubi Cilembu untuk balita berusia 3–5 tahun dengan kondisi gizi kurang di Kabupaten Sumedang. Penelitian lain menguji pemberian cookiesberbahan ikan sidat Indonesia (Anguilla spp.) kepada balita berusia 12–24 bulan.
Data Science and Technology Index (SINTA) juga mencatat Dewi Marhaeni memimpin penelitian pada 2025 mengenai pengembangan asam lemak omega-3 dari minyak limbah ikan sidat (Anguilla bicolor) sebagai suplemen bagi penderita diabetes melitus.
Bumi Wijaya Ungkap Alasan Memilih Sidat
APJ Bumi Wijaya, Muji Widodo, mengatakan pemilihan ikan sidat dalam formulasi Gizidat mempertimbangkan komposisi zat gizinya, yang mencakup protein, lemak, dan mikronutrien.
“Yang paling utama ada tiga kandungan di ikan sidat, yaitu protein, lemak, dan mikronutrien,” kata Muji saat ditemui reporter SerayuNews, Sabtu (26/9/2026).
Menurut dia, kandungan mikronutrien menjadi salah satu pertimbangan perusahaan dalam menentukan bahan baku. Unsur tersebut mencakup vitamin yang diperlukan tubuh, termasuk vitamin A dan vitamin D.
“Kalau ikan lain mungkin cukup tinggi di protein dan lemak. Di sidat ini ada mikronutriennya juga. Jadi kita pilih ikan sidat karena kandungannya cukup lengkap,” ujarnya.
Bagi Bumi Wijaya, pemanfaatan sidat menjadi bagian dari upaya menggabungkan sejumlah bahan alami dalam satu formulasi produk. Perusahaan memadukan ikan sidat dengan madu dan temulawak sebagai komponen Gizidat.
Muji menjelaskan madu digunakan sebagai basis formulasi dengan mempertimbangkan karakter rasa yang dapat diterima anak. Sementara itu, temulawak dipilih karena secara tradisional dikenal dalam pemeliharaan nafsu makan.
“Ikan sidat ini di Gizidat digunakan sebagai nutrition support. Tiga kombinasi ini yang kami formulasikan di Gizidat,” kata Muji.
Namun, perusahaan belum mengungkapkan secara terperinci komposisi masing-masing bahan, kebutuhan ikan sidat untuk produksi, kapasitas produksi Gizidat, maupun nilai penjualan produk tersebut.
Pengolahan Menentukan Kualitas Bahan Baku
Selain pemilihan bahan baku, proses pengolahan menjadi aspek penting dalam pemanfaatan ikan sidat. Kandungan zat gizi pada bahan mentah tidak serta-merta menunjukkan jumlah nutrisi yang akan bertahan dalam produk akhir.
Muji mengatakan pengendalian suhu menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam proses pengolahan ikan sidat.
“Yang paling utama terkait proses pemanasan atau suhu. Suhu pada proses pengolahan ikan sidat sangat menentukan apakah nutrisinya masih terjaga atau tidak,” ujarnya.
Menurut Muji, protein, lemak, dan sejumlah mikronutrien dapat mengalami perubahan akibat proses pengolahan tertentu. Karena itu, pengendalian suhu diperlukan untuk menjaga kualitas bahan baku selama pemrosesan.
Meski demikian, belum terdapat data pengujian dalam keterangan yang disampaikan perusahaan mengenai tingkat retensi nutrisi ikan sidat setelah diolah menjadi Gizidat.
Pemanfaatan ikan sidat dalam produk pangan juga menunjukkan bahwa komoditas perikanan dapat dikembangkan melampaui konsumsi ikan segar. Penelitian mengenai biskuit, cookies, pangan fungsional, dan minyak sidat memperlihatkan beragam bentuk pengolahan yang dapat dikembangkan dari komoditas tersebut.
Bagi Bumi Wijaya, ikan sidat menjadi salah satu bahan baku yang dimanfaatkan untuk mengembangkan formulasi Gizidat bersama madu dan temulawak. Potensi pengembangan bisnis dari pemanfaatan komoditas tersebut masih perlu dilihat dari kapasitas produksi, ketersediaan pasokan, serta penerimaan pasar terhadap produk akhirnya.
