
Persaingan politik antara Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden Prabowo Subianto dinilai berpotensi berkembang menjadi pertentangan terbuka. Sosiolog sekaligus Associate Professor di Nanyang Technological University (NTU) Singapura, Prof. Sulfikar Amir, Ph.D., memprediksi Jokowi suatu saat akan melontarkan kritik langsung terhadap kepemimpinan Prabowo.
Prediksi itu disampaikan Sulfikar saat membahas dinamika politik Indonesia dalam siniar di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP yang tayang pada Selasa, 13 Oktober 2026.
Menurut Sulfikar, sejumlah perkembangan politik belakangan ini, termasuk safari politik Jokowi bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan perombakan kabinet atau reshuffle, merupakan gejala persaingan pengaruh di antara kedua tokoh tersebut.
“Itu sudah pasti, dan saya kira akan ada suatu masa di mana Jokowi akan menyerang Prabowo secara terbuka,” tegas Sulfikar saat menanggapi pertanyaan Abraham Samad mengenai manuver politik Jokowi.
Ia memperkirakan kritik Jokowi nantinya dapat menyasar arah kebijakan dan kinerja pemerintahan Prabowo. Kritik tersebut, menurut Sulfikar, berpotensi mempertanyakan hasil yang dicapai selama pemerintahan saat ini.
“Akan ada satu masa di mana dia (Jokowi) akan mengatakan bahwa kepemimpinan Prabowo itu cuma menghasilkan masalah,” ungkapnya.
Sulfikar juga menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi menjadi sasaran kritik apabila persaingan politik keduanya semakin terbuka.
“Program MBG (Makan Bergizi Gratis) itu (akan dinilai) sangat tidak realistis, buang-buang duit, dan sebagainya,” tambah Sulfikar.
Baca Juga: Posisi Gibran sebagai Wapres Dinilai Tak Signifikan, Ini Alasan Tetap Diperebutkan Elit Partai
Menurut dia, potensi perseteruan tersebut berkaitan dengan perebutan pengaruh dan sumber daya politik. Meski Prabowo memegang kekuasaan secara formal sebagai presiden, Sulfikar menilai pengaruh Jokowi masih menjadi salah satu faktor dalam dinamika politik pemerintahan.
Di tengah kemungkinan meningkatnya ketegangan itu, Sulfikar mengingatkan masyarakat dan kalangan intelektual agar tidak terjebak dalam persaingan kedua tokoh. Ia menilai persoalan struktural, terutama di bidang ekonomi dan pendidikan, perlu memperoleh perhatian lebih besar.
Sulfikar mendorong publik untuk memperluas pembahasan politik agar tidak hanya berpusat pada hubungan Jokowi dan Prabowo, tetapi juga pada gagasan dan solusi untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat.
