
Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) kini lebih berhati-hati saat ditanya mengenai peluang Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka kembali berpasangan pada Pilpres 2029. Berbeda dengan pernyataannya sebelumnya yang mengarahkan relawan untuk mendukung pasangan tersebut selama dua periode, Jokowi kali ini meminta publik tidak terburu-buru membicarakan pemilu mendatang.
“Pemilu masih jauh,” kata Jokowi.
Saat kembali ditanya mengenai kemungkinan duet Prabowo-Gibran berlanjut, Jokowi menegaskan bahwa saat ini semua pihak sebaiknya berfokus pada tugas masing-masing.
“Masih jauh 2029, semuanya kerja dulu, entah kerja politik, entah kerja di pemerintahan, kerja untuk rakyatlah semuanya,” ujarnya.
Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, menduga perubahan pernyataan tersebut berkaitan dengan dinamika politik setelah Mahkamah Konstitusi (MK) membacakan putusan perkara PHPU Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026 mengenai persyaratan pendidikan Gibran. Dalam pertimbangannya, MK menyatakan tidak menemukan bukti ijazah setara SMA yang dipersoalkan pemohon, tetapi tidak mengabulkan permintaan untuk mendiskualifikasi Gibran.
Menurut Jamiluddin, putusan itu berpotensi memengaruhi persepsi publik terhadap Gibran. Ia menilai reputasi dan kredibilitas merupakan modal penting bagi seseorang yang ingin kembali berkontestasi dalam pemilihan presiden.
“Pascaputusan MK, reputasi dan kredibilitas Gibran sudah pada titik nadir, padahal itu adalah modal politik untuk berkontestasi pada pilpres mendatang,” kata Jamiluddin kepada wartawan di Jakarta, Senin (12/10/2026).
Jamiluddin melihat setidaknya ada dua kemungkinan di balik perubahan narasi Jokowi, yakni menjaga posisi politik Gibran di tengah tekanan pascaputusan MK dan mempertahankan keleluasaan menentukan langkah politik putranya menjelang 2029. Ia menduga Jokowi saat ini lebih memprioritaskan keberlanjutan jabatan Gibran daripada memastikan peluangnya menjadi calon wakil presiden untuk periode kedua.
“Bisa saja Jokowi berpikir posisi politik Gibran sudah di ujung tanduk. Bagi Jokowi, jangankan dua periode, Gibran tidak dimakzulkan saja sudah bagus,” ujarnya.
Baca Juga: PSI Sebut Anies-Cak Imin Bisa Menang Pilpres 2024 Jika Didukung Jokowi
Jamiluddin juga mengaitkan analisisnya dengan munculnya wacana pemakzulan Gibran di parlemen. Ia menduga Jokowi masih akan memanfaatkan pengaruh politik yang dimilikinya untuk membangun komunikasi dengan para ketua umum partai dan Presiden Prabowo demi mempertahankan posisi Gibran.
“Untuk itu, Jokowi tampaknya akan menggunakan sisa-sisa pengaruhnya untuk melobi para ketua umum partai untuk tidak memakzulkan Gibran. Termasuk tentunya Presiden Prabowo Subianto,” kata Jamiluddin.
Meski demikian, penilaian mengenai motif Jokowi tersebut merupakan analisis Jamiluddin. Pernyataan Jokowi yang menyebut pemilu masih jauh belum dengan sendirinya membuktikan bahwa ia telah menarik dukungan terhadap duet Prabowo-Gibran atau bahwa pemakzulan Gibran akan terjadi.
