
Mantan Kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Achmad Hidayat melontarkan kritik terhadap cara partai memperlakukan kader di tingkat akar rumput.
Ia menyebut banyak kader merasa hanya dimanfaatkan sebagai mesin suara, padahal tujuan berpartai seharusnya lebih luas daripada memenangkan pemilu untuk PDIP.
Baca Juga: Diduga Makar, Rocky Gerung dan Denny Indrayana Resmi Dilaporkan Ketum Pro Gibran ke Polda Metro
Menurut Achmad, partai politik semestinya menjadi sarana untuk melayani masyarakat dan membangun ekosistem demokrasi.
Ia menilai munculnya perasaan bahwa kader hanya dibutuhkan untuk kepentingan elektoral menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan.
“Banyak akar rumput menyampaikan seakan hanya dijadikan mesin suara, padahal tujuan berpartai bukan itu. Ya, melayani masyarakat, membentuk ekosistem demokrasi, enggak toxic kan begitu,” ujar Achmad, dikutip Senin (12/10/2026).
Bagi Achmad, tujuan berpartai semestinya mencakup pelayanan masyarakat dan penguatan demokrasi, bukan hanya pengumpulan suara. Pernyataan itu menjadi pesan utama yang ia bawa setelah meninggalkan PDIP.
Achmad sendiri kini bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Ia bergabung dengan partai itu karena pemecatan yang dialaminya setelah berkunjung ke kediaman Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Baca Juga: DPR Masih Reses, Pansus Ijazah Gibran Justru Mulai Kasak-kusuk
PDIP di sisi lain mengklaim bahwa politikus itu menerima sanksi pemecatan setelah melakukan sejumlah pelanggaran, termasuk penyalahgunaan wewenang dan intimidasi terhadap pengurus partai.
