
Motor yang digunakan marshal saat Alex Rins mengalami kecelakaan di MotoGP Indonesia 2026 ternyata bukan kendaraan untuk mengantar pebalap kembali ke paddock. Menurut mantan Direktur MGPA Priandhi Satria, kendaraan tersebut merupakan flying marshal yang memiliki tugas berbeda dari moto taxi.
Perbedaan fungsi itu menjadi salah satu penjelasan di balik video viral yang memperlihatkan Rins bersitegang dengan marshal setelah terjatuh pada sesi Practice di Pertamina Mandalika International Circuit. Dalam rekaman tersebut, Rins terlihat kesal karena tidak langsung diantar kembali ke garasi menggunakan kendaraan petugas yang berada di dekatnya.
Priandhi menjelaskan, motor yang tampak dalam video digunakan untuk mendukung tugas petugas di lintasan. Salah satu cirinya adalah keberadaan alat pemadam api ringan (APAR) yang terlihat di bagian belakang kendaraan.
“Motor yang dipakai itu merupakan motor flying marshal, dan bukan kendaraan moto taxi. Di bagian belakangnya terlihat ada APAR atau alat pemadam api ringan,” ujar Priandhi.
Menurut dia, flying marshal dan moto taxi mempunyai fungsi berbeda dalam operasional balapan. Flying marshal bertugas mendukung pengawasan dan penanganan situasi di lintasan, sedangkan moto taxi digunakan untuk membantu transportasi pebalap sesuai prosedur yang berlaku.
Perbedaan tersebut berpengaruh terhadap sejauh mana petugas dapat mengantar pebalap setelah terjadi kecelakaan. Priandhi menyebut petugas flying marshal hanya dapat membawa pebalap sampai titik transit kendaraan penjemputan yang telah disiapkan penyelenggara.
“Flying Marshal yang terlihat di video, memang hanya bisa mengantarkan sampai titik transit car yang sudah disetujui dan sudah disiapkan dari sebelumnya,” ujarnya.
Titik transit itu menjadi lokasi peralihan sebelum pebalap melanjutkan perjalanan dengan kendaraan yang telah ditentukan. Mekanisme tersebut, kata Priandhi, merupakan bagian dari prosedur yang telah disepakati bersama Race Director melalui rencana keselamatan sebelum balapan dimulai.
Batasan itu juga berkaitan dengan kebutuhan menjaga kesiapan petugas di lintasan. Jika kendaraan flying marshal digunakan untuk mengantar pebalap terlalu jauh, petugas berisiko meninggalkan area kerja yang menjadi tanggung jawabnya dalam waktu lebih lama.
“Kendaraan flying marshal, tidak boleh meninggalkan area kerja yang telah ditentukan, makanya ada kendaraan transit. Dengan demikian, tidak semua kendaraan yang berada di lintasan dapat digunakan untuk mengantarkan pebalap hingga ke garasi atau paddock,” ujar Priandhi.
Ia memahami bahwa pebalap yang baru mengalami kecelakaan ingin segera kembali ke garasi. Namun, keinginan itu tidak selalu bisa dipenuhi menggunakan kendaraan yang kebetulan berada di dekat lokasi kejadian.
Baca Juga: Pasca Hina Marshal di MotoGP Mandalika, Alex Rins Minta Maaf dan Sayangkan Ancaman Netizen Padanya
“Rider pasti maunya diantar secepat mungkin untuk sampai kembali ke garasinya. Itu memungkinkan jika memakai moto taxi, tetapi tidak memungkinkan jika kebetulan dia diantar menggunakan kendaraan flying marshal, karena itu akan berarti petugas marshal tersebut meninggalkan area pos kerja mereka terlalu lama, dan tidak sesuai prosedur yang telah ditentukan dan disetujui sebelum balap,” ujarnya.
Insiden tersebut sebelumnya menjadi perbincangan setelah Rins terlihat bersitegang dengan marshal dan mengacungkan jari tengah. Rekaman itu memunculkan kritik terhadap petugas Mandalika, tetapi Priandhi menilai kejadian tersebut perlu dipahami berdasarkan jenis kendaraan dan pembagian tugas di lintasan.
Priandhi juga menyampaikan bahwa, berdasarkan informasi yang diterimanya, Dorna Sports tidak mempermasalahkan pelaksanaan tugas marshal dalam insiden tersebut. Ia turut menyebut Steward FIM memanggil Rins untuk memberikan teguran terkait gestur yang dinilai tidak pantas dan dugaan adanya sedikit kontak fisik dengan petugas.
Meski penjelasan mengenai flying marshal dan moto taxi memberikan konteks penting, perbedaan fungsi kendaraan tersebut tidak dengan sendirinya menjawab seluruh detail kejadian. Penilaian menyeluruh tetap memerlukan pemahaman terhadap prosedur evakuasi yang berlaku dan keterangan resmi dari pihak penyelenggara terkait penanganan Rins setelah kecelakaan.
