Wednesday, October 7News That Matters

Uji Coba MBG Ala Jepang Mulai Diterapkan, Hasilnya Bikin Sisa Makanan Nyaris Tak Terbuang


Wacana Berita, Jakarta –

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, mengungkapkan bahwa uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan menunjukkan hasil positif, terutama dalam mengurangi jumlah makanan yang terbuang.

Menurut Sudaryono, mekanisme ini memberi keleluasaan kepada siswa untuk mengambil porsi sesuai kebutuhan masing-masing. Jika masih ada makanan tersisa, siswa lain juga dapat menambah porsi sehingga potensi pemborosan menjadi lebih kecil.

“Sejauh ini tadi saya dapat laporan, tingkat kehabisan makanannya bagus. Jadi lebih fresh, kemudian ada yang mungkin mau nambah, masih ada sisa bisa nambah. Waste-nya lebih sedikit karena prasmanan,” kata Sudaryono dalam siaran pers, dikutip Rabu (7/10).

Program percontohan tersebut telah diterapkan di lebih dari 60 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dalam skema ini, makanan yang selesai dimasak langsung diantar ke sekolah dan disajikan di ruang kelas saat masih hangat.

Sudaryono menjelaskan, model prasmanan tengah dievaluasi sebagai bagian dari pengembangan pola penyediaan makanan terpusat atau central kitchen yang mengadaptasi sistem makan siang sekolah di Jepang.

Menurutnya, penyajian langsung di kelas memiliki sejumlah keuntungan. Selain menjaga suhu makanan tetap hangat saat dikonsumsi, metode ini juga dapat memangkas jeda waktu antara proses memasak dan penyantapan makanan.

“Kami harapkan satu, makanannya lebih enak karena hangat-hangat. Yang kedua, tentu saja lebih fresh karena tidak ada delay waktu. Sehingga mengurangi risiko kerusakan makanan yang kemudian menimbulkan gangguan kesehatan,” kata Sudaryono. 

Dalam pelaksanaannya, pihak sekolah turut dilibatkan untuk membantu proses penyajian dan memastikan standar pelaksanaan MBG tetap terjaga.

Baca Juga: BGN Respons soal Tunggakan ke Mitra Dapur MBG: Itu Belum Dibayar Karena Masih…

Meski demikian, Sudaryono mengakui sistem prasmanan memerlukan kesiapan serta pelatihan yang memadai bagi pengelola dapur maupun pihak sekolah.

“Prasmanan ini memang kalau sudah terbiasa akan bagus, sama seperti di negara lain. Cuma perlu ada training yang cukup,” pungkasnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *