
Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto disebut tidak memberikan perlakuan khusus kepada keluarga maupun orang-orang yang berada di lingkaran terdekatnya ketika berhadapan dengan persoalan hukum.
Aktivis sekaligus pendiri Great Institute yang kini menjabat Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI, Syahganda Nainggolan, menilai sikap tersebut menunjukkan ketegasan Prabowo dalam persoalan pemberantasan korupsi dan pembenahan budaya politik di lingkungan pemerintahan.
Hal itu disampaikan Syahganda saat berbincang dengan pakar hukum tata negara Refly Harun dalam sebuah siniar yang tayang pada 3 Oktober 2026.
Dalam perbincangan tersebut, Refly Harun menanyakan potensi konflik kepentingan atau keuntungan pribadi bagi keluarga Prabowo. Pertanyaan itu berkaitan dengan sejumlah kerabat yang berada di sekitar Presiden, seperti Hasyim Djojohadikusumo, Thomas Djiwandono, hingga Saraswati.
Menanggapi hal tersebut, Syahganda mengatakan sejauh ini tidak terlihat adanya pemindahan kekayaan atau transfer of wealth secara tidak wajar kepada keluarga Prabowo.
Menurut dia, Prabowo justru menunjukkan sikap tegas ketika ada kerabatnya yang dinilai berada di area abu-abu atau berpotensi berhadapan dengan persoalan hukum.
Syahganda kemudian menceritakan situasi ketika pemerintah tengah merumuskan langkah penyitaan aset-aset tambang ilegal. Ia menyebut sempat ada keponakan Prabowo yang berada di wilayah Bangka.
Menurut Syahganda, Prabowo kemudian meminta keponakannya tersebut meninggalkan lokasi dan memperingatkannya agar tidak terlibat dalam persoalan hukum.
“‘Eh, kau kalau masih di situ, kau nanti ditangkap juga,’ gitu loh. Nah, dia itu tegas. Enggak bisa dia mentang-mentang ada saudaranya (lalu dibiarkan),”
Syahganda juga menyinggung penanganan perkara hukum yang melibatkan orang-orang di lingkaran dekat Prabowo. Salah satu contoh yang disebutnya adalah kasus dugaan korupsi yang menyeret mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim.
Dalam uraian Syahganda, paman Nadiem, Zaki Makarim dan Maher Algadri, merupakan sosok yang dekat dengan Prabowo. Kedekatan Maher Algadri bahkan digambarkan Syahganda dengan istilah sebagai “orang yang bisa membangunkan Prabowo tidur”.
Baca Juga: Selamatkan dr. Tifa dan Roy Suryo, Kepala Bakom Syahganda Ungkap Lobi ke Lingkaran Prabowo
Namun, ketika persoalan hukum tersebut bergulir, Syahganda mengatakan Prabowo memilih tidak ikut campur atau memberikan pembelaan.
“Di sinilah maksudnya, Prabowo itu dia tegas kalau soal gitu. Bahwa ada orang di dalam lingkungan itu, namanya keluarga ya (pasti ingin merapat). Inilah memang problem feodalisme kita. Tapi Prabowo lebih tegas,” pungkas Syahganda.
Menurut Syahganda, sikap tersebut menjadi sinyal bahwa kedekatan keluarga maupun hubungan dengan lingkaran kekuasaan tidak semestinya menjadi alasan seseorang mendapatkan perlakuan berbeda ketika berhadapan dengan hukum.
