
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mencatat sebanyak 34 potensi kebakaran besar berhasil ditahan sepanjang September 2026. Keberhasilan ini diklaim sebagai hasil dari efektivitas komunikasi dini warga serta kesigapan petugas dalam melokalisasi titik api sebelum meluas.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa penanggulangan titik api di level wilayah menjadi kunci utama agar tidak berujung pada bencana skala besar. Komunikasi antara warga dan petugas dinilai krusial untuk menyelamatkan wilayah permukiman rawan dari amukan si jago merah.
“Berkat komunikasi yang baik dan tindakan preventif sebenarnya hampir ada, kalau nggak salah 34 kebakaran di Jakarta yang berhasil kita tahan, kita cegah,” ujar Pramono di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (6/10/2026).
Pramono menilai, sistem proteksi lingkungan di Jakarta sebenarnya relatif sudah terdesain dengan matang. Salah satunya lewat pengadaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) yang ditempatkan di tingkat RT dan RW lingkungan warga.
Meski begitu, lanjut Pramono, dirinya memastikan pemerintah daerah tetap bakal turun ke lapangan untuk mengecek ulang kondisi kelaikan alat-alat penunjang tersebut.
“Walaupun saya harus melakukan pengecekan lagi apakah alatnya itu masih berfungsi dengan baik atau tidak, tetapi intinya adalah koordinasi di lapangan yang menjadi penting,” tutur Pramono.
Kecepatan informasi dari masyarakat ini terbukti memangkas waktu respons petugas Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat), sehingga menempatkan warga sebagai garda terdepan penanganan dini. Pramono mengingatkan bahwa sinergi di lapangan adalah penentu utama keberhasilan mitigasi awal bencana.
“Sehingga dengan demikian keterlibatan masyarakat memberi tahu kepada Damkar dan sebagainya, itulah yang menjadi kata kunci di dalam kita memberikan penanggulangan untuk kebakaran yang di Jakarta,” pungkas Pramono.
