
Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Ahmad Ali mulai mengungkap gambaran mengenai figur yang berpotensi masuk dalam kalkulasi politik partainya untuk Pemilihan Presiden 2029. Dua nama dari keluarga Presiden Joko Widodo turut muncul, yakni Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep.
Ahmad Ali secara terbuka menyebut Gibran sebagai salah satu figur yang berpeluang menjadi kompetitor kuat pada Pilpres 2029. Menurutnya, pengalaman Gibran di pemerintahan menjadi modal politik yang sulit diabaikan.
“(Gibran) Bisa menjadi kompetitor. Kompetitor yang cukup kuat menurut saya. Kalau saya sih sederhana saja, emang ada calon presiden lebih baik daripada Gibran?” kata Ahmad Ali dalam Podcast Gaspol, dikutip Rabu, 7 Oktober 2026.
Ali menilai rekam jejak Gibran berbeda dari sejumlah nama lain yang mulai muncul dalam pembicaraan Pilpres 2029. Sebelum menduduki posisi wakil presiden, Gibran terlebih dahulu terpilih sebagai Wali Kota Solo.
“Emang dari nama-nama yang disebut, ada enggak yang pernah punya pengalaman jadi wali kota? Artinya dari mereka-mereka itu belum ada yang pernah dipilih oleh rakyat,” ujar Ali.
Menurut Ali, pengalaman tersebut menjadi salah satu modal elektoral Gibran. Ia memperkirakan pada 2029 Gibran akan berusia 42 tahun setelah menjalani satu periode sebagai Wali Kota Solo dan lima tahun sebagai Wakil Presiden.
Nama Gibran ternyata bukan satu-satunya figur dari keluarga Jokowi yang masuk dalam pembicaraan politik PSI. Sebelumnya, Ahmad Ali juga pernah menyebut Kaesang Pangarep sebagai sosok yang dipersiapkan untuk masa depan politik partai.
Saat menghadiri Rakorwil PSI se-Sulawesi Tenggara di Kendari, Ali bahkan membuka kemungkinan Kaesang menjadi pemimpin nasional pada masa mendatang. “Siapa tahu ketum kita (PSI) ini 10 tahun yang akan datang jadi presiden kita. Siapa tahu,” kata Ali.
Meski demikian, Ali mengatakan Kaesang saat ini belum menunjukkan keinginan untuk maju sebagai calon presiden. Karena itu, pernyataan tersebut belum dapat dipandang sebagai pencalonan resmi.
Baca Juga: Politisi PDIP: Putusan MK soal Gibran Bukan Akhir, Itu Pembuka
“Manusia boleh berencana, Allah yang menentukan. Hari ini belum tentu mau, dipaksa juga dia tidak mau. Namun, kalau takdir Allah yang menentukan, siapa yang mau tolak?” ujar Ali.
Dengan pernyataan tersebut, Gibran dan Kaesang berada dalam dua horizon politik berbeda menurut gambaran Ali. Gibran disebut memiliki jalur yang lebih dekat karena sudah memegang jabatan nasional dan memiliki pengalaman pemerintahan, sedangkan Kaesang diposisikan sebagai figur yang diproyeksikan untuk kepemimpinan nasional di masa mendatang.
