
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah kebutuhan tenaga kerja. Di tengah potensi sejumlah pekerjaan tergantikan teknologi, pemerintah dinilai tidak cukup hanya mendorong peningkatan keterampilan atau reskilling pekerja.
Head of Leadership Development & Scholarship Tanoto Foundation, Yosea Kurnianto mengatakan, perubahan akibat teknologi harus diikuti dua langkah sekaligus, yakni memastikan pekerja mampu beradaptasi dan menciptakan lapangan kerja baru yang belum mudah digantikan teknologi.
“Bukan hanya upskilling-reskilling, tapi penciptaan lapangan kerja yang tidak atau belum tergantikan oleh robot atau teknologi itu juga menjadi tantangan,” kata Yosea di Jakarta Pusat, Rabu (7/10/2026).
Menurut dia, perkembangan teknologi memang berpotensi menggantikan pekerjaan tertentu, terutama yang memiliki tugas rutin dan dapat diotomatisasi. Namun, kondisi tersebut tidak otomatis berarti seluruh pekerjaan manusia akan hilang.
Maka dari itu, pemerintah dan pemangku kepentingan perlu mempercepat peningkatan maupun pengalihan keterampilan tenaga kerja agar pekerja yang terdampak perubahan teknologi dapat masuk ke jenis pekerjaan lain.
Baca Juga: Kemenko Perekonomian Dorong Manufaktur RI Perkuat Teknologi dan Rantai Pasok
Di sisi pekerja, Yosea menilai kemampuan beradaptasi juga semakin penting. Pekerja perlu memahami posisi pekerjaannya saat ini sekaligus memperkirakan bagaimana teknologi dapat mengubah pekerjaan tersebut ke depan.
“Dari sisi human resource-nya juga, mereka harus secara sadar memastikan diri mereka terus relevan,” ungkap dia.
Yosea mengatakan pekerja perlu memiliki kesadaran terhadap keterampilan yang dimiliki dan potensi perubahan pekerjaannya. Menurutnya, seseorang perlu mengetahui bagian mana dari pekerjaannya yang berpotensi terotomatisasi dan kemudian membekali diri dengan keterampilan atau spesialisasi lain.
“Pekerjaan saya memang belum tergantikan oleh teknologi hari ini, tapi bisa jadi tergantikan karena ini. Jadi makanya saya harus memastikan diri, memperlengkapi diri dengan skill lain, atau dengan spesialisasi lain,” ujar dia.
AI Tak Hanya Menghilangkan Pekerjaan
Gambaran perubahan pasar kerja global terlihat dalam Future of Jobs Report 2025 yang diterbitkan World Economic Forum (WEF). WEF memperkirakan sekitar 22% pekerjaan akan mengalami transformasi hingga 2030. Sebanyak 170 juta pekerjaan baru diproyeksikan tercipta, sementara 92 juta pekerjaan diperkirakan tergeser, sehingga terdapat tambahan bersih sekitar 78 juta pekerjaan.
WEF juga mencatat 77% perusahaan yang disurvei berencana melakukan upskilling terhadap pekerjanya sebagai respons terhadap perkembangan teknologi. Namun, 41% perusahaan memperkirakan akan mengurangi tenaga kerja di sejumlah area karena teknologi mampu mereplikasi pekerjaan manusia. Hampir separuh perusahaan juga berencana memindahkan pekerja dari posisi yang terdampak ke posisi lain.
Gambaran tersebut menunjukkan bahwa perubahan pasar kerja bukan semata-mata mengenai hilangnya pekerjaan. Tantangannya juga terletak pada bagaimana pekerja dapat berpindah ke jenis pekerjaan baru yang muncul seiring perubahan teknologi.
WEF mencatat keterampilan teknologi seperti AI, big data, dan keamanan siber menjadi kelompok keterampilan yang pertumbuhannya paling cepat. Di sisi lain, kemampuan manusia seperti berpikir analitis, kreativitas, ketahanan, fleksibilitas, kepemimpinan, dan kolaborasi tetap menjadi kompetensi penting.
Di kawasan Asia Tenggara, kebutuhan adaptasi tersebut bahkan lebih tinggi. Sebanyak 96% perusahaan yang berbasis di kawasan ini berencana meningkatkan keterampilan tenaga kerjanya, dibandingkan 85% secara global.
Khusus Indonesia, digitalisasi dipandang sebagai faktor paling penting yang akan mendorong perubahan pasar tenaga kerja hingga 2030 oleh 83% perusahaan yang beroperasi di Indonesia.
Pekerja Dituntut Terus Relevan
Yosea menjelaskan kemampuan teknis saja tidak cukup ketika dunia kerja terus berubah. Pekerja juga membutuhkan kemampuan fundamental dan soft skill agar dapat beradaptasi ketika jenis pekerjaannya berubah.
Menurut dia, salah satu kemampuan yang perlu diperkuat adalah bagaimana pekerja membangun dan memanfaatkan jejaring. Memiliki banyak koneksi tidak otomatis berarti seseorang memiliki social capital yang kuat.
“Bukan sekadar kenal dan ngobrol, tapi sebenarnya membantu untuk mencapai tujuan tertentu,” jelas dia.
Selain kemampuan interpersonal, Yosea menilai emotional intelligence dan kesabaran terhadap proses karier juga penting. Menurutnya, keinginan untuk mempercepat karier dengan berpindah pekerjaan memang dapat menjadi pilihan, tetapi pekerja tetap perlu mampu mengelola ekspektasi dan proses untuk mencapai tujuan tersebut.
“Relevansi ini kan gak akan bisa bergerak kalau foundational skills atau soft skills mereka gak kuat,” katanya.
Kemampuan tersebut juga diperlukan agar pekerja dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kapasitasnya, bukan sekadar bersaing langsung dengan teknologi.
Baca Juga: Standard Chartered Siapkan Investasi Ekonomi Biru, Laut RI Makin Digenjot
Baca Juga: Raksasa Teknologi Terbelah soal AI, Bagaimana dengan Indonesia?
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli sebelumnya juga menekankan bahwa adopsi AI di dunia kerja tidak serta-merta berarti pengurangan tenaga kerja secara drastis. Menurutnya, AI dapat membuka peluang usaha sekaligus meningkatkan kebutuhan terhadap kompetensi tertentu.
Perubahan tersebut membuat tantangan pemerintah dan dunia usaha bergeser. Bukan hanya bagaimana mempertahankan pekerjaan yang ada, tetapi juga memastikan tenaga kerja memiliki kemampuan untuk mengisi pekerjaan baru yang muncul akibat transformasi teknologi.
Bagi Yosea, kesiapan tersebut harus dibangun dari dua arah secara bersamaan. Pemerintah perlu menyiapkan kebijakan dan ekosistem pengembangan keterampilan, sementara pekerja harus memiliki kesadaran untuk terus memperbarui kompetensinya.
“Kita gak bisa nyalain satu, kita gak bisa lihat satu aja,” tutup dia.
