
Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn.) Gatot Nurmantyo menyoroti perubahan sikap sejumlah aktivis dan tokoh kritis yang sebelumnya vokal terhadap pemerintah, tetapi kemudian memilih diam atau bergeser setelah berhadapan dengan jejaring kekuasaan.
Gatot menyebut kondisi tersebut sebagai fenomena suara kritis yang “tersumbat” atau “disumpal”. Menurut dia, pola semacam itu berulang ketika aktivis yang semula keras menyuarakan kritik kemudian menyeberang atau tidak lagi bersuara.
“Sekarang kan lebih banyak orang aktivis-aktivis yang bicara keras, habis itu tersumbat. Menyeberang atau diam,” ujar Gatot dalam perbincangan bersama Hersubeno Arief yang diunggah di kanal YouTube Hersubeno Point, Jumat (2/10/2026).
Gatot menilai fenomena tersebut kerap berkaitan dengan adanya intervensi atau penawaran tertentu yang membuat kritik dan keluhan publik berhenti mengalir. Namun, ia menegaskan dirinya memilih tetap bersuara karena tidak memiliki kepentingan pribadi maupun ambisi jabatan.
“Saya berani mengkritik tajam karena saya tidak punya kepentingan apa-apa. Jadi saya punya kebebasan untuk menyuarakan yang terbaik bagi bangsa,” tegasnya.
Sorotan mengenai konsistensi aktivis tersebut menjadi menarik jika dikaitkan dengan perubahan posisi sejumlah tokoh pergerakan pada era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Syahganda Nainggolan menjelaskan dinamika tersebut saat berbincang dengan Refly Harun pada 3 Oktober 2026. Menurut dia, perbedaan posisi tidak berarti kehilangan ideologis.
“Kita berempat ini yakin pada sosialisme. Dalam konteks berempat ini, saya yakin pada Islamisme sosialistik. Artinya, kita harus membangun bangsa ini untuk semua,” jelas Syahganda.
Ferry Juliantono kini bekerja sepenuhnya di dalam sistem sebagai menteri. Ia membawa gerbong Partai Gerindra dan Syarikat Islam serta disebut menjadi ujung tombak pemberdayaan ekonomi rakyat melalui Koperasi Desa Merah Putih.
Sementara itu, Jumhur Hidayat yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu Co-Captain Timnas AMIN juga kini menjadi menteri. Pimpinan konfederasi buruh KSPSI tersebut disebut fokus menggarap isu internasional, Gen Z, perubahan iklim, perdagangan karbon, dan lingkungan hidup.
Sementara itu, Syahganda Nainggolan dilantik sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI dan Rocky Gerung dilantik sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres)
“Tidak ada dari perjuangan kita yang diasosiasikan di luar sistem, kemudian sekarang setengah sistem, atau hampir semua di sistem, lalu kita kehilangan daya juang. Kita tetap konsisten,” tegas Syahganda.
Baca Juga: Baru Dilantik Prabowo, Syahganda Sarankan Gibran Diganti dan Kaesang Jadi Menpora
Ia juga menceritakan keterlibatannya bersama Ferry Juliantono dalam penyelesaian persoalan aset tanah milik Habib Rizieq Shihab di Megamendung. Menurut Syahganda, tanah tersebut sempat terancam diambil alih, tetapi persoalan itu kemudian diselesaikan melalui lobi dan lahan tersebut dikelola untuk Koperasi Desa Merah Putih.
Dalam kunjungan ke Megamendung, Syahganda dan Ferry juga berziarah ke makam para syuhada laskar FPI. Bagi Syahganda, hal itu menjadi bagian dari pesan bahwa perubahan posisi di dalam pemerintahan tidak berarti mereka melupakan basis perjuangan umat dan masyarakat sipil.
