Monday, October 5News That Matters

Mobil Bensin Kehilangan Tahta, EV Ambil Alih Pasar Global


Wacana Berita, Jakarta –

Kendaraan bensin mulai kehilangan posisi dominannya di pasar otomotif global. Pada semester I 2026, penjualannya turun 10 persen menjadi 20,25 juta unit, membuat pangsanya untuk pertama kali berada di bawah 50 persen sejak 1920-an.

Data Mobility Global yang sebelumnya dikenal sebagai S&P Global Mobility dan diolah Nikkei Asia menunjukkan, kendaraan bensin menyumbang sekitar 49 persen dari total penjualan kendaraan baru dunia sepanjang Januari-Juni 2026. Perhitungan tersebut tidak memasukkan kendaraan hybrid dan sebagian kendaraan komersial.

Perubahan ini cukup besar jika dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Pada 2021, kendaraan bensin masih menguasai 73 persen pasar kendaraan baru global.

Salah satu pemicunya adalah kenaikan harga minyak setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Harga bahan bakar yang meningkat serta kekhawatiran terhadap pasokan BBM ikut menekan permintaan kendaraan bermesin bensin.

Dampaknya terlihat di sejumlah pasar utama. Penjualan kendaraan bensin turun 26 persen di China dan 13 persen di Eropa.

Kondisi tersebut justru memberi ruang lebih besar bagi kendaraan listrik (EV). Penjualan EV secara global naik 12 persen menjadi 6,87 juta unit pada semester I 2026. Pangsa kendaraan listrik mencapai 17 persen dari total penjualan kendaraan baru, melewati level 16 persen yang selama ini dianggap sebagai salah satu titik balik menuju adopsi massal.

Associate Director Mobility Global Yoshiaki Kawano mengatakan kenaikan harga minyak kembali membuat biaya operasional kendaraan listrik lebih menarik bagi konsumen.

“Adopsi EV melambat sekitar 2024 dan hybrid tumbuh karena pemangkasan subsidi dan faktor lain, tetapi harga minyak yang lebih tinggi membuat biaya operasional EV yang lebih rendah kembali diapresiasi, dan penjualan kini tumbuh lagi,” kata Kawano, dikutip Nikkei Asia, Senin (5/10/2026).

China masih menjadi pasar terbesar kendaraan listrik dengan kontribusi sekitar separuh penjualan global. Namun, penjualan EV di negara tersebut turun 3 persen menjadi 3,44 juta unit setelah insentif pajak dikurangi sejak Januari 2026.

Penjualan EV di Amerika Utara juga turun 15 persen setelah insentif kendaraan listrik dicabut oleh pemerintahan Presiden Donald Trump.

Sebaliknya, pasar Eropa menunjukkan pertumbuhan lebih kuat. Penjualan EV di kawasan tersebut naik 32 persen menjadi 1,81 juta unit. Di Asia Tenggara, penjualan melonjak 81 persen menjadi 350.000 unit, sedangkan Oseania mencatat kenaikan lebih dari dua kali lipat menjadi 110.000 unit.

Asosiasi Produsen Mobil Eropa (ACEA) juga mencatat penjualan kendaraan listrik di 31 negara utama Eropa untuk pertama kalinya melampaui kendaraan bensin dalam basis semester.

Meski EV berkembang, kendaraan hybrid juga belum kehilangan daya tarik. Penjualan hybrid global naik 10 persen menjadi 7,27 juta unit pada semester I 2026 atau sekitar 18 persen dari total penjualan kendaraan baru.

Baca Juga: Mobil BYD Diretas, Celah Keamanan Bikin Pemilik Waspada

Baca Juga: Harta Kalapas Cibinong Rp3,18 Miliar, Ini Deretan Mobil Milik Wisnu Hani Putranto

Baca Juga: Pasar Mobil Bekas Penuh Tantangan, Astra Digital Mobil Perkuat OLX

Hybrid masih diminati karena konsumsi bahan bakarnya lebih rendah dibandingkan kendaraan bensin, terutama ketika harga BBM meningkat.

Mobility Global memperkirakan kendaraan listrik dapat menyumbang lebih dari 30 persen produksi kendaraan global pada 2030. Angka tersebut diproyeksikan melampaui kontribusi kendaraan hybrid dan kendaraan bermesin pembakaran, termasuk diesel.

Perkembangan pasar kendaraan listrik tetap sangat dipengaruhi kebijakan pemerintah. Di Amerika Serikat, permintaan EV turun setelah subsidi dikurangi dan aturan efisiensi bahan bakar dilonggarkan. Kondisi tersebut mendorong sejumlah produsen seperti Honda dan General Motors meninjau kembali strategi kendaraan listrik mereka.

Di sisi lain, Kawano menilai perubahan pasar tidak semata-mata berarti konsumen kembali ke kendaraan konvensional ketika insentif EV berkurang.

“Sedikit pembeli EV yang kembali ke kendaraan bensin atau hybrid, dan seiring harga yang terus turun, permintaan yang didorong kebutuhan nyata konsumen, bukan subsidi, kemungkinan akan meluas,” ujar Kawano.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *