
PT Pyridam Farma Tbk (IDX: PYFA) secara resmi menerima Persetujuan Izin Edar (NIE) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI untuk produk dengan komposisi Fenofibrate 145 mg. Persetujuan ini diserahkan secara langsung oleh Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., kepada Direktur Perseroan, Bedjo Stefanus, di Bandung, Jawa Barat. Hal ini menjadi bukti kolaborasi antara industri farmasi dan pemerintah dalam memperluas akses terhadap terapi gangguan lipid sebagai bagian dari upaya pengendalian faktor risiko penyakit kardiovaskular di Indonesia.
Fenofibrate adalah agen terapi golongan fibrat yang bekerja membantu menurunkan kadar trigliserida dan memperbaiki profil lipid dalam darah termasuk menurunkan kolesterol LDL, sekaligus menstimulasi peningkatan kadar kolesterol HDL di dalam darah. Pengelolaan kadar lipid yang optimal merupakan bagian penting dalam membantu mengendalikan faktor risiko pembentukan plak yang dapat menyebabkan penyempitan atau penyumbatan arteri.
Menyikapi persetujuan regulasi ini, Perseroan menegaskan bahwa langkah ini sejalan dengan visi jangka panjang perusahaan. Kehadiran produk ini diharapkan menjadi salah satu pilihan terapi yang dapat diandalkan oleh para tenaga medis di seluruh Indonesia. Direktur PYFA, Bejo Stefanus juga menyampaikan capaian ini telah membuka peluang perluasan portofolio perusahaan.
“Bagi kami, perolehan NIE bukan hanya menjadi pencapaian regulasi, tetapi juga membuka peluang bagi PYFA untuk terus memperluas portofolio dan menghadirkan lebih banyak produk kesehatan yang menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia”. ujar Bedjo.
Bagi PYFA, setiap milestone regulasi adalah pijakan untuk terus memperkuat kapabilitas dan memperluas kontribusi dalam kancah kesehatan nasional. Ekspansi akses pengobatan berbasis Fenofibrate ini merupakan langkah intervensi strategis perusahaan guna membantu menyediakan pilihan terapi bagi pasien dengan gangguan lipid. Pengelolaan kadar lipid yang optimal merupakan bagian penting dalam pengendalian faktor risiko penyakit kardiovaskular.
Urgensi atas akses pengobatan semakin relevan seiring dengan tingginya beban penyakit tidak menular di Indonesia, termasuk penyakit kardiovaskular dan stroke. Kondisi ini tidak hanya berdampak terhadap kesehatan masyarakat, tetapi juga memberikan beban pembiayaan yang signifikan terhadap sistem kesehatan nasional. Merujuk pada data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam publikasi Profil Kesehatan Indonesia, penyakit jantung dan stroke konsisten menjadi dua penyebab kematian tertinggi, merenggut nyawa hingga 1,5 juta warga Indonesia setiap tahunnya. Laporan realisasi BPJS Kesehatan terbaru pada September 2026 juga mengungkap bahwa penyakit jantung menyedot biaya penanganan terbesar hingga Rp17,35 triliun, disusul oleh stroke sebesar Rp7,21 triliun. Kehadiran produk dari PYFA ini diharapkan turut berkontribusi dalam upaya jangka panjang untuk mengurangi beban penyakit dan pembiayaan kesehatan nasional.
PYFA senantiasa berkomitmen untuk menghadirkan inovasi bernilai tambah tinggi dalam memitigasi ledakan kasus penyakit tidak menular. Hal ini dibuktikan melalui percepatan penambahan fasilitas manufaktur perusahaan. Saat ini, fasilitas produksi injeksi steril pada Lini 3 telah selesai dibangun dan dijadwalkan untuk memasuki fase produksi komersial pada awal tahun 2027.
