Sunday, October 4News That Matters

Kesiapan Charging Jadi Tantangan Pengembangan Kendaraan Listrik


KORAN MANDALA –Pengembangan kendaraan listrik di Jawa Barat masih menghadapi tantangan dari sisi kesiapan infrastruktur pengisian daya atau charging.

Ketua Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Wilayah Jawa Barat, Fragaria Alfissima, menilai ketersediaan titik pengisian daya kendaraan listrik di Bandung maupun daerah lainnya masih belum optimal.

Bahkan, menurut Fragaria, kondisi infrastruktur charging saat ini belum dapat dikatakan memenuhi kebutuhan minimal pengguna kendaraan listrik.

“Jangankan optimal, kalau kita sudah bicara minimal saja kayaknya belum sampai. Paling tidak, ketika orang harus mengisi baterai, waktu antre untuk charging itu harus masuk dalam rentang waktu yang masuk akal,” Ujar Fragaria saat dihubungi Koran Mandala Minggu (4/10/2026)

Ia mengatakan persoalan waktu tunggu menjadi penting karena kendaraan listrik tidak hanya digunakan untuk kebutuhan pribadi, tetapi juga sebagai sarana mencari penghasilan.

Jika pengguna harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengisi daya, waktu produktif mereka dapat ikut terbuang.

“Kalau orang harus menunggu sampai berjam-jam untuk mengisi, waktu dia untuk mencari konsumen habis hanya untuk mengantre pengisian daya. Kasihan juga,” katanya.

Fragaria mencontohkan, apabila proses pengisian membutuhkan waktu tunggu hingga dua jam dan dilakukan dua kali dalam sehari, pengguna dapat kehilangan sekitar empat jam hanya untuk menunggu charging.

“Kalau setiap kali charging harus menunggu dua jam, kemudian harus mengisi dua kali sehari, berarti empat jam terbuang hal ini terbuang hanya untuk menunggu pengisian,” ucapnya.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian ketika pemerintah mendorong peralihan dari kendaraan berbahan bakar konvensional menuju kendaraan listrik, termasuk mobil dan becak listrik.

Ia menilai pembangunan infrastruktur charging harus direncanakan bersamaan dengan kebutuhan energi yang akan muncul.

“Dari sisi ketersediaan tempat untuk charging, waktunya harus masuk akal. Kemudian daya yang ada juga harus cukup. Harus disiapkan berapa banyak energi listrik yang nantinya tersedot untuk para pengguna kendaraan listrik dan apakah cadangan dayanya ada,” jelasnya.

Selain jumlah titik pengisian, ketersediaan cadangan daya listrik juga menjadi persoalan yang perlu diperhitungkan. Fragaria mempertanyakan kesiapan pasokan apabila jumlah kendaraan listrik terus bertambah.

Jika cadangan daya PLN tidak mencukupi, ia menilai perlu ada kejelasan mengenai opsi penyediaan energi secara mandiri oleh sektor swasta.

Namun, alternatif tersebut juga harus memperhatikan tujuan utama penggunaan kendaraan listrik, yakni mengurangi polusi.

“Kalau cadangan daya PLN tidak cukup, apakah swasta diperbolehkan menyiapkan sumber dayanya sendiri?” katanya.

Karena itu, Fragaria menegaskan pemerintah perlu menyiapkan solusi secara terencana sebelum memperluas penggunaan kendaraan listrik.

“Kesiapan cadangan daya dan kesiapan dari sisi jumlah titik pengisian atau titik charger harus dipikirkan dan direncanakan. Solusinya harus dibangun secara eksplisit,” tutupnya



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *