
China sedang menyiapkan Pulau Hainan sebagai salah satu pintu perdagangan terbesar ke dunia. Kawasan perdagangan bebas tersebut memiliki nilai sekitar US$113 miliar atau setara Rp2.000 triliun dan menjadi bagian dari strategi Beijing memperluas keterbukaan ekonomi.
Kawasan ini dikembangkan melalui skema Hainan Free Trade Port (FTP). Salah satu perubahan utamanya adalah pengaturan kepabeanan Hainan yang dibuat terpisah dari sistem yang berlaku di China daratan.
Dengan status tersebut, pemerintah China memberikan ruang yang lebih longgar bagi arus barang, investasi, dan aktivitas bisnis. Tarif sejumlah produk dipangkas, sementara beberapa aturan investasi juga dibuat lebih fleksibel untuk meningkatkan daya tarik Hainan bagi investor asing.
Beijing juga tengah mendorong Hainan menjadi pusat bisnis alternatif di kawasan, termasuk sebagai penantang baru bagi Hong Kong. Kebijakan itu semakin penting di tengah tekanan ekonomi global dan persaingan untuk mendapatkan investasi internasional.
Dari sisi perdagangan, dampaknya cukup besar. Porsi barang yang bisa masuk tanpa tarif meningkat dari 21% menjadi 74%. Daftar produk yang mendapatkan fasilitas bebas bea juga melonjak lebih dari tiga kali lipat, kini mencakup lebih dari 6.600 kategori barang.
Keuntungan lainnya diberikan kepada perusahaan yang melakukan pengolahan di Hainan. Produk dengan kandungan nilai tambah lokal lebih dari 30% dapat dikirim ke China daratan tanpa dikenai tarif.
Hainan juga membuka peluang lebih besar bagi perusahaan asing untuk masuk ke sejumlah sektor jasa yang selama ini masih dibatasi di China daratan. Prosedur investasi lintas negara turut disederhanakan agar arus modal dapat bergerak lebih cepat.
Beijing menargetkan Hainan tidak hanya menjadi kawasan bebas tarif, tetapi juga simpul penting dalam rantai pasok regional. Lokasinya yang menghadap Asia Tenggara dinilai strategis untuk memperkuat hubungan perdagangan China dengan negara-negara di kawasan tersebut.
“Pelabuhan ini dapat menjadi gerbang vital yang memimpin era baru keterbukaan China kepada dunia,” kata Wakil Perdana Menteri China He Lifeng, seperti dikutip dari Reuters pada akhir 2025.
Kebijakan tersebut juga mendapat respons positif dari pasar. Saham-saham China dan Hong Kong menguat pada Senin, seiring munculnya harapan bahwa pembukaan Hainan akan menarik aliran modal baru.
Baca Juga: Pajak 40 Perusahaan Baja China Disorot, DJP: Harus Tunggu Transaksi Selesai
Baca Juga: Produksi dan Pesanan Naik, Manufaktur China Cetak PMI 52,1
Meski demikian, Hainan masih harus membuktikan kemampuannya untuk bersaing dengan Hong Kong.
Ekonom senior Economist Intelligence Unit, Xu Tianchen menilai model Hainan menawarkan liberalisasi yang lebih terkontrol dan berpotensi membantu menghubungkan kembali rantai pasok.
Namun, menurutnya, Hainan belum memiliki sistem hukum dan tingkat keterbukaan sektor keuangan yang menjadi keunggulan Hong Kong.
