
Hubungan politik Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka kembali menjadi perhatian setelah muncul klaim mengenai kemungkinan perubahan pasangan menuju Pemilu 2029.
Di tengah gugatan mengenai syarat pendidikan Gibran yang sedang bergulir di Mahkamah Konstitusi (MK), jurnalis investigasi Hussein Abri Yusuf Dongoran menyebut Joko Widodo (Jokowi) disebut telah membaca adanya perubahan dinamika tersebut.
Hussein mengaitkan hal itu dengan aktivitas politik Jokowi yang belakangan kembali intens turun ke berbagai daerah. Menurut dia, langkah tersebut dapat dibaca sebagai upaya mempertahankan posisi tawar politik keluarga Jokowi di tengah perubahan konstelasi.
Baca Juga: Selain Ijazah, Silsilah Keluarga Gibran Ikut Dicurigai
“Jokowi itu punya strategi politik yang luar biasa. Nggak mungkin dia bergerak tanpa kalkulasi yang matang,” sebutnya dalam tayangan YouTube Hendri Satrio Official.
Bagi Hussein, aktivitas politik Jokowi di berbagai daerah memiliki arti tersendiri dalam menghadapi dinamika tersebut.
“Keliling ke daerah-daerah itu bertujuan menaikkan bargaining dirinya sendiri, termasuk bargaining untuk Gibran di tengah tren kepuasan publik yang dinamis,” ungkap Hussein.
Bukan hanya aktivitas Jokowi yang menjadi sorotan. Hussein juga mengungkap hasil wawancara langsungnya dengan Presiden ke-7 RI tersebut beberapa waktu lalu di Surakarta. Dalam wawancara itu, Jokowi disebut mengakui bahwa komunikasinya dengan Gibran terkait berbagai hal tidak terlalu sering dilakukan.
“Pas saat kami bertanya, Gibran sering nggak sih diskusi dengan Bapak? Jarang dia bilang, telepon pun jarang,” imbuhnya.
Baca Juga: Politisi PSI: Kalau Gibran Digantikan, Prabowo Diganti Juga Dong
Hussein kemudian mengaitkan minimnya komunikasi tersebut dengan dinamika politik yang lebih luas. Ia sebelumnya menyebut adanya informasi dari sejumlah lingkaran elite mengenai kemungkinan Prabowo mempertimbangkan figur lain untuk pendampingnya pada masa mendatang.
Menurut Hussein, tiga nama yang kemudian mencuat adalah Teddy Indra Wijaya, Sugiono, dan Sudaryono.
“Per hari ini, Prabowo mungkin saja tidak mau dengan Gibran lagi. Makanya muncul tiga nama: Teddy Indra Wijaya, Sugiono, dan Sudaryono,” kata Hussein.
Ketiganya diketahui memiliki posisi strategis di lingkungan pemerintahan Prabowo. Teddy menjabat Sekretaris Kabinet, Sugiono eks Menteri Luar Negeri yang kini menjadi Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), sementara Sudaryono menjabat Kepala Badan Gizi Nasional.
Lebih lanjut, Hussein juga menyinggung posisi PSI dalam dinamika tersebut. Ia mengaitkannya dengan pembahasan Revisi UU Pemilu, khususnya wacana parliamentary threshold yang disebut berada di kisaran 5 persen hingga 7 persen.
“Kalau PSI nggak bisa lolos, berarti kan nggak bisa mengajukan Gibran lagi. Jika RUU Pemilu menerapkan threshold yang ketat, otomatis ruang politik untuk pengusungan akan berubah,” ujar Hussein.
