Friday, October 2News That Matters

Kemenperin Ungkap Tantangan IKM Fesyen, Produk Bagus Belum Tentu Laku


Wacana Berita, Jakarta –

Pelaku industri kecil dan menengah (IKM) fesyen dan kriya dituntut tidak hanya mengandalkan kemampuan produksi dan kreativitas. Perubahan selera konsumen membuat pelaku usaha perlu memahami kebutuhan pasar sejak menentukan desain produk.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Reni Yanita mengatakan pendekatan tersebut penting agar produk yang dikembangkan IKM memiliki peluang lebih besar untuk diterima konsumen.

“Pengembangan produk tidak cukup hanya berangkat dari pertanyaan mengenai apa yang dapat diproduksi, tetapi juga perlu mempertimbangkan siapa konsumennya dan apa kebutuhannya,” ujar Reni dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (1/10/2026).

Menurut Reni, desain menjadi salah satu bagian penting dalam proses tersebut. Pelaku IKM perlu memahami karakter konsumennya sebelum menentukan konsep dan mengembangkan produk.

Kemenperin kemudian mendorong pendekatan tersebut melalui program Design Canvas dan Design Maker 2026 yang mempertemukan pelaku IKM dengan mahasiswa. Program yang dimulai pada 17 September 2026 itu melibatkan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Bali serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Udayana.

Kolaborasi tersebut dirancang untuk menggabungkan pengalaman pelaku usaha dengan pengetahuan dan perspektif baru dari mahasiswa. Prosesnya mencakup penggalian kebutuhan konsumen, riset pasar, penyusunan konsep desain hingga pembuatan prototipe.

Kepala Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) Kemenperin Dickie Sulistya Aprilyanto mengatakan Design Canvas menjadi tahap awal untuk memetakan potensi usaha sekaligus memahami kebutuhan pasar.

“Melalui Design Canvas, peserta diarahkan untuk menggali potensi IKM, memahami kebutuhan dan preferensi konsumen, serta merumuskan ide dan konsep desain berdasarkan peluang pasar,” kata Dickie.

Baca Juga: Sarmuji Resmi Jadi Menperin, Bidik Industri Padat Karya Jadi Pengungkit Ekonomi

Baca Juga: Karier Politik Melesat, Sarmuji Kini Pegang Kursi Menperin

Setelah konsep terbentuk, tahap berikutnya dilakukan melalui Design Maker. Pada tahap ini, gagasan diterjemahkan menjadi prototipe dengan mempertimbangkan desain, fungsi dan potensi pengembangan produk.

Program tersebut melibatkan 70 peserta yang terdiri dari perwakilan dinas perindustrian di Bali, pelaku IKM, dosen dan mahasiswa. Peserta mendapatkan materi mengenai preferensi konsumen, riset pasar, perumusan desain hingga pengembangan prototipe.

Reni mengatakan kolaborasi dengan perguruan tinggi diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan. Gagasan yang dihasilkan dari proses tersebut diharapkan dapat dilanjutkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan peluang pasar.

“Mahasiswa memperoleh pengalaman dalam menyelesaikan kebutuhan nyata industri, sementara IKM memperoleh perspektif, ide, dan alternatif pengembangan produk,” ungkap dia.

Bagi sektor fesyen dan kriya, pendekatan berbasis pasar menjadi penting karena kekuatan produknya banyak bertumpu pada desain, kreativitas dan identitas lokal. Karena itu, kemampuan menerjemahkan tren serta kebutuhan konsumen ke dalam produk menjadi salah satu bagian dari pengembangan daya saing IKM.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *