Thursday, October 1News That Matters

Ini Kekuatan Dahsyat, Banyak Pihak Gelisah


Wacana Berita, Jakarta –

Wacana Duet Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mulai menjadi salah satu pembicaraan menarik dalam peta politik menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029.

Ketua Umum Rampai Nusantara Mardiansyah Semar bahkan menilai munculnya pembicaraan mengenai pasangan tersebut mulai membuat pihak lain gelisah. Ia melihat ada potensi kekuatan elektoral yang besar apabila basis dukungan kedunya dapat benar-benar dipadukan.

Baca Juga: Dituduh Biang Rusuh, Dokter Tifa Kuliti Saksi Jokowi: Berarti Anda Melakukan Keterangan Palsu!

“Dedi Mulyadi sekarang semua sudah bicara berpasangan dengan Mas Gibran. Sepertinya ada kegelisahan dengan yang lain. Saya kira wajar-wajar saja,” jelas Mardiansyah, dikutip Jumat (2/10/2026).

Menurut Mardiansyah, daya tarik utama wacana tersebut tidak hanya terletak pada figur keduanya, tetapi juga pada wilayah yang dikaitkan dengan basis dukungan masing-masing.

Dedi Mulyadi memiliki kekuatan politik di Jawa Barat. Sementara Gibran disebut memiliki keterkaitan dengan basis suara di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

“Dedi Mulyadi simbol suara Jawa Barat. Ia cukup besar,” jelas Mardiansyah.

Ia kemudian menghubungkan tiga provinsi tersebut dengan peta politik nasional. Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur merupakan wilayah dengan jumlah pemilih yang besar sehingga menjadi bagian penting dalam pertarungan elektoral nasional.

“Kalau bicara politik kekuasaan jadi kunci suara itu Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat. Jawa Barat identik dengan Dedi Mulyadi. Mas Gibran identik dengan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selesai klop,” tuturnya.

Ia bahkan menyebut kombinasi keduanya sebagai kekuatan yang dahsyat karena karakter politik dan pendekatan kepada masyarakat yang dinilainya memiliki kemiripan.

“Saya kira ini kekuatan dahsyat sepertinya memang mulai menyatu cara berpolitiknya cara bertemu masyarakat,” kata Mardiansyah.

Sebelumnya, Mardiansyah juga menegaskan bahwa arah dukungan kelompoknya masih mengacu pada harapan berlanjutnya Prabowo-Gibran.

“Harapan kita sejak awal termasuk arahan bapak kita dukung kedunya bahkan sampai 2034,” ungkapnya.

Namun, ia juga realistis jika presiden nantinya memilih tidak kembali menggandeng Gibran.

Baca Juga: Sidang Kasus Jokowi, Dokter Tifa Skak Berulang Kali Lechumanan: Anda Tidak Benar-benar Mengerti…

“Tapi kalau Pak Prabowo nggak mau sama Mas Gibran lagi masak mau dipaksa,” ujarnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *