Thursday, October 1News That Matters

Penyegaran Kabinet, PR Darurat Sektor Industri


Oleh: Didik J Rachbini – Rektor Universitas Paramadina

Wacana Berita, Jakarta –

Penyegaran kabinet dan hadirnya Menteri Perindustrian baru datang pada momentum yang penting bagi sektor industri. Selama dua tahun terakhir, pertumbuhan sektor industri terus melemah. Pada kuartal II 2025, pertumbuhan sektor industri tercatat 5,48 persen, lalu turun menjadi hanya 4,5 persen pada kuartal II 2026.

Pada saat yang sama, RAPBN 2027 yang baru disahkan belum memberikan sinyal dorongan khusus terhadap industri sebagai salah satu penopang terbesar perekonomian. Dengan kondisi tersebut, harapan perekonomian tumbuh 6 persen, apalagi mencapai 7 persen, menjadi semakin sulit.

Pertanyaannya, bagaimana pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 7 persen jika sektor industri justru melemah?

Padahal, target resmi RPJMN menempatkan kontribusi manufaktur terhadap PDB sebagai salah satu sasaran penting. Kontribusi manufaktur ditargetkan meningkat dari baseline 18,67 persen menjadi 21,9 persen pada 2029. Sementara itu, target resmi pertumbuhan ekonomi ditetapkan mencapai 8 persen pada 2029.

Target tersebut sulit dicapai jika kebijakan ekonomi dan industri tetap berjalan seperti biasa. Karena itu, penyegaran Menteri Perindustrian seharusnya menjadi momentum untuk melakukan perubahan kebijakan, bukan sekadar pergantian pejabat.

Industri Kehilangan Momentum

Masalah sektor industri bukan hanya persoalan kebijakan yang ada saat ini, tetapi juga hilangnya momentum pertumbuhan. Indonesia menghadapi kondisi ketika industri dalam negeri tertinggal dari negara-negara sekitar.

Persoalan lainnya adalah pertumbuhan antar-subsektor industri yang tidak merata. Ketika pertumbuhan sektor industri secara keseluruhan berada di bawah 5 persen, sejumlah subsektor juga menghadapi tantangan masing-masing.

Indikator manufaktur pun sempat menunjukkan tekanan. PMI berada di level 46,9 pada Juni dan 49,8 pada Agustus, sebelum kembali ke 52,4 pada September 2026.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan rumah sektor industri bukan perkara kecil. Diperlukan kebijakan yang mampu mengembalikan momentum pertumbuhan sekaligus memperkuat peran industri sebagai penopang perekonomian.

RAPBN 2027 dan Tantangan Industrialisasi

Persoalan berikutnya adalah desain kebijakan fiskal. Setelah RAPBN 2027 disahkan, pertanyaan pentingnya adalah apakah struktur anggaran tersebut cukup kuat untuk mengubah target pertumbuhan ekonomi 6 persen menjadi akselerasi industrialisasi.

Pertanyaan ini penting karena keberhasilan pertumbuhan ekonomi sangat bergantung pada sektor industri sebagai salah satu sektor terbesar dalam perekonomian.

Dengan defisit yang cukup besar, terdapat kebutuhan pembiayaan untuk pembayaran utang dan mandatory spending pada berbagai program sosial yang membutuhkan dana APBN dalam jumlah besar. Karena itu, pertanyaan mengenai efektivitas RAPBN 2027 dalam mendorong sektor produktif, terutama industri, sangat bergantung pada apakah terdapat perubahan desain kebijakan atau justru tetap mempertahankan status quo.

Defisit anggaran yang besar, dengan sendirinya, bukan bukti adanya ekspansi produktif.

PR Menteri Perindustrian Baru

Jika sektor industri saat ini hanya tumbuh sekitar 4,5 persen, kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi terbatas. Dengan bobot sektor industri sekitar 19 persen terhadap PDB, secara sederhana kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi hanya sekitar 0,86 persen, berdasarkan perhitungan 19 persen dikalikan 4,5 persen.

Kondisi tersebut berbeda dengan periode ketika pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 7 persen. Pada masa itu, pertumbuhan sektor industri turut didukung oleh pertumbuhan industri yang mencapai dua digit.

Di sinilah pekerjaan rumah dari penyegaran kabinet menjadi jelas. Kehadiran Menteri Perindustrian baru harus menjadi momentum untuk mengubah kebijakan yang selama dua tahun terakhir belum mampu mendorong sektor industri kembali menjadi penopang kuat pertumbuhan ekonomi.

Kebijakan business as usual tidak cukup. Jika tidak ada perubahan kebijakan di sektor industri, target pertumbuhan ekonomi 7–8 persen akan semakin sulit dicapai.

Karena itu, tantangan terbesar Menteri Perindustrian baru bukan sekadar menjaga industri tetap tumbuh, tetapi mengembalikan industri sebagai mesin pertumbuhan ekonomi.

Tanpa perubahan kebijakan di sektor ini, cita-cita pemerintah untuk mendorong ekonomi tumbuh 7–8 persen akan sulit diwujudkan.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *