
Pengembangan ekosistem digital Indonesia tidak hanya membutuhkan perluasan infrastruktur, tetapi juga kemampuan industri mengadopsi teknologi, ketersediaan talenta, serta kolaborasi terbuka antara perusahaan, pemerintah, akademisi, dan komunitas.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Indonesia International Data Center & Cloud (IIDCC) dan Cloud Republic Open Source Summit (CROSS) 2026 yang digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Forum tersebut mempertemukan pelaku pusat data, cloud, open source, industri, pendidikan, dan komunitas teknologi.
Konferensi IIDCC × CROSS 2026 menghadirkan sekitar 32 pembicara dari kalangan industri, perusahaan, akademisi, praktisi profesional, dan komunitas teknologi. Di antaranya Director of Field Engineering Alliances Canonical Andrey Grebennikov dan pakar teknologi informasi Prof. Onno W. Purbo.
Grebennikov membahas penerapan teknologi open source seperti OpenStack dan MicroCloud untuk membangun infrastruktur TI yang lebih fleksibel. Menurutnya, teknologi tersebut dapat digunakan korporasi dan instansi mulai dari pusat data utama hingga edge computing.
Pendekatan tersebut memungkinkan perusahaan melakukan pengembangan infrastruktur sekaligus mempertahankan kendali atas lingkungan TI tanpa bergantung pada biaya lisensi proprietary.
Grebennikov juga menyoroti kolaborasi Cloud in Asia dengan Sivali Cloud Technology sebagai distributor khusus Canonical di kawasan tersebut.
IIDCC × CROSS 2026 membahas kebutuhan infrastruktur digital yang semakin kompleks seiring perkembangan kecerdasan artifisial (AI).
Salah satu topik yang dibahas adalah pengembangan pusat data yang siap mendukung AI atau AI-ready data centers. Infrastruktur tersebut membutuhkan dukungan kapasitas daya, sistem pendinginan, serta teknologi untuk accelerated computing.
Forum tersebut juga membahas konsep federated cloud sebagai pendekatan dalam meningkatkan ketahanan dan pemanfaatan kapasitas bersama. Selain itu, pembahasan mencakup energi berkelanjutan, teknologi cloud berbasis open source, telekomunikasi, serta kedaulatan digital.
Aspek infrastruktur terbuka untuk badan usaha milik negara (BUMN) dan penerapan teknologi di tingkat perusahaan juga menjadi bagian dari diskusi.
Managing Director Cloud in Asia Ryo Ardian mengatakan kolaborasi antara pelaku industri, komunitas, dan pendidikan dibutuhkan untuk memperkuat ekosistem teknologi nasional.
“Kolaborasi antara Cloud in Asia dan INTI menciptakan platform bersama bagi para pemangku kepentingan teknologi open source dari sektor industri, komunitas, dan pendidikan. Dengan mempertemukan kelompok-kelompok ini, kami dapat membantu ekosistem TI, pusat data, dan cloud computing Indonesia berkembang dengan keselarasan yang lebih baik dan dalam skala yang lebih luas,” kata Ryo.
Selain infrastruktur, pengembangan sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam pembahasan IIDCC × CROSS 2026.
Ryo mengatakan pendidikan dan partisipasi komunitas menjadi bagian integral dalam membangun kapabilitas teknologi dalam jangka panjang. Sejumlah topik yang dibahas mencakup penerapan open source dalam pendidikan, pengembangan calon cloud engineer, kontribusi komunitas lokal, testbed dan sandbox kolaboratif, hingga budaya pemrograman.
Forum tersebut juga membahas InnerSource, yakni penerapan praktik kolaborasi open source di dalam organisasi untuk mendorong pengembangan dan pertukaran pengetahuan secara internal.
Rangkaian IIDCC × CROSS 2026 merupakan bagian dari Indonesia Technology & Innovation (INTI) 2026. Secara keseluruhan, INTI 2026 mencatat sekitar 22.000 pengunjung dan mempertemukan 952 peserta pameran dari berbagai sektor.
Peserta pameran mencakup perusahaan dari sektor telekomunikasi dan infrastruktur digital, manufaktur dan teknologi kelistrikan, cloud, AI, keamanan siber, robotika, teknologi geospasial, pendidikan, energi, hingga teknologi sektor publik.
Dengan mempertemukan pembahasan mengenai infrastruktur, adopsi teknologi, pendidikan, dan komunitas, IIDCC × CROSS 2026 menempatkan pengembangan ekosistem digital tidak hanya sebagai persoalan investasi teknologi.
Ketersediaan talenta, kesiapan institusi, kemampuan adopsi teknologi, serta kolaborasi lintas sektor turut menjadi bagian dari kebutuhan untuk membangun kapabilitas digital Indonesia dalam jangka panjang.
