
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup menguat pada perdagangan Rabu (30/9/2026). Mata uang Garuda terparkir Rp17.894 atau menguat 87 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.981 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan penguatan rupiah didorong oleh tiga instrumen kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Ketiganya berupa instrumen spot, instrument DNDF (Domestic Non Deliverable Forward) maupun NDF (Non Deliverable Forward).
“Sehingga bagi pelaku pasar dengan kebutuhan pemenuhan kewajiban impor maupun pembayaran impor yang dapat ditunda, bisa dilakukan dengan DNDF.Hal ini merupakan bagian untuk mendorong berkembangnya instrumen hedging,” kata Ibrahim kepada wartawan.
Sementara, kata Ibrahim, untuk pergerakan nilai tukar rupiah di pasar NDF([Non Deliverable Forward) yang berada di pasar luar negeri, transaksi tersebut tetap berjalan ketika pasar domestik Indonesia ditutup.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Suhasil Nazara memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 dirancang secara pruden dan kredibel di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Pembahasan rancangan APBN (RAPBN) 2027 berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan fragmentasi perdagangan dunia yang mengganggu rantai pasok, meningkatkan volatilitas harga, hingga menambah tekanan inflasi.
Baca Juga: BI Beberkan Strategi Jaga Rupiah, dari Likuiditas hingga Daya Tarik Aset
Baca Juga: Rupiah Dibuka Menguat Rp17.925 per dolar AS di Awal Perdagangani
“Namun kita bersyukur bahwa di tengah tantang an global yang tidak mudah tersebut, fundamental ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang kuat,” jelas dia.
Hal ini terbukti dari kinerja APBN hingga Agustus 2026 tetap solid. Pertumbuhan ekonomi Indonesia secara kumulatif pada semester I-2026 tercatat solid di level 5,45 persen (yoy), dengan pertumbuhan triwulan II mencapai 5,29 persen.
Pendapatan negara masih tumbuh hingga mencapai Rp2.055,6 triliun, setara dengan 65,2 persen dari target APBN. Hal tersebut menunjukkan APBN tetap menjadi instrumen untuk mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus melindungi masyarakat.
Sepanjang 2026, APBN digunakan secara fleksibel dan responsif untuk menghadapi berbagai tantangan, termasuk penanganan bencana, menjaga stabilitas harga serta ketersediaan energi dan pangan di tengah kenaikan harga minyak dunia dan ancaman El Nino.
