
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjukkan sikap berbeda dalam menghadapi Iran dan China. Terhadap Teheran, Trump menolak proposal gencatan senjata yang disertai tawaran pembukaan kembali Selat Hormuz. Sementara terhadap Beijing, pemerintahannya membuka ruang pengurangan tarif dan kesepakatan perdagangan untuk sejumlah produk.
Perbedaan pendekatan tersebut terlihat dari cara Washington merespons proposal Iran dan pembahasan dagang dengan China. Dalam kasus Iran, Trump menilai proposal yang diajukan Teheran belum memenuhi kepentingan Amerika Serikat.
“Saya menolak proposal mereka,” kata Trump kepada wartawan pada Sabtu, (26/9/2026).
Proposal Iran mencakup langkah selama tujuh hari menuju penghentian konflik. Teheran meminta Amerika Serikat mencabut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, mencabut sanksi terhadap penjualan minyak, serta melepaskan aset Iran yang dibekukan senilai sekitar 12 miliar dolar AS.
Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Iran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz. Setelah jalur pelayaran itu dibuka, kedua negara akan melanjutkan pembicaraan untuk menyusun kesepakatan akhir.
Namun, Trump memilih menolak tawaran tersebut. Washington dinilai masih mengandalkan tekanan ekonomi dan militer untuk memperoleh konsesi lebih besar dari Teheran.
Sikap tersebut berbeda dengan pendekatan Trump terhadap China dalam urusan perdagangan.
Setelah pertemuan Trump dan Presiden China Xi Jinping, Washington dan Beijing membahas kerangka pengurangan tarif secara timbal balik. Barang-barang yang mendapatkan perlakuan tarif lebih rendah memiliki nilai sekitar 30 miliar dolar AS dari masing-masing negara.
Pemerintah Amerika Serikat juga menyatakan akan mengejar perdagangan yang lebih seimbang dengan China. Washington menekankan kepatuhan Beijing terhadap komitmen pembelian produk pertanian dan energi dari Amerika Serikat.
Selain itu, Amerika Serikat ingin memperluas akses pasar bagi petani, produsen, pelaku usaha, dan pekerja Amerika.
“Pemerintahan Trump akan terus mengejar perdagangan yang adil, seimbang, dan timbal balik dengan China,” kata Greer dalam sebuah pernyataan.
Baca Juga: Trump Minta China Tak Bantu Iran, Ini Respons Xi Jinping
China kemudian mengonfirmasi daftar barang yang masuk dalam rencana pengurangan tarif tersebut. Beijing menyebut langkah itu dapat membantu menstabilkan hubungan perdagangan dengan Amerika Serikat sekaligus menciptakan kondisi yang lebih baik bagi ekspor produk China ke pasar Amerika.
Kerja sama perdagangan tersebut mencakup sejumlah sektor, antara lain produk pertanian, energi, barang manufaktur, dan barang konsumsi.
Meski membuka ruang pengurangan tarif, hubungan dagang Amerika Serikat dan China tetap menghadapi sejumlah persoalan. Total perdagangan dua arah kedua negara pada 2025 disebut mencapai sekitar 495 miliar dolar AS, turun sekitar 25 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
