
Usia sejumlah armada KRL Jabodetabek yang telah mencapai lebih dari 40 tahun membuat PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI harus menyiapkan tambahan rangkaian kereta. Salah satu opsi yang diusulkan yakni mendatangkan 23 trainset KRL bukan baru dari Jepang.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan tambahan armada tersebut dibutuhkan untuk menopang operasional KRL Jabodetabek. Pengadaan 23 trainset itu disiapkan sebagai bridging untuk memenuhi kebutuhan armada di tengah meningkatnya jumlah pengguna.
Bobby memaparkan kebutuhan tersebut terdiri dari dua jenis formasi. Sebanyak tujuh trainset akan menggunakan formasi 12 kereta atau SF12, sedangkan 16 trainset lainnya menggunakan formasi delapan kereta atau SF8.
“Jumlah yang kami usulkan untuk bridging ini, yang kereta yang tidak baru ini, itu ada 7 trainset dengan SF12. Kemudian plus dengan 16 train set dengan SF8,” ujar Bobby dalam RDP bersama Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Pilihan formasi tersebut tidak dibuat seragam karena kondisi infrastruktur pada setiap lintasan KRL berbeda. KAI harus menyesuaikan panjang rangkaian dengan kemampuan peron di sejumlah stasiun.
“Misalnya loop line-nya yang dari Tanjung Priok ke Kota itu peronnya pendek-pendek. Jadi kalau kita pasang SF12 nggak optimum dia. Jadi makanya kami mengusulkan itu adalah 7 SF12 kemudian 16 SF8,” jelas Bobby.
Kebutuhan armada tambahan juga tidak terlepas dari pertumbuhan jumlah pengguna KRL Jabodetabek. Pada semester I-2026, jumlah penumpang tercatat tumbuh 11,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Rata-rata pengguna KRL kini mencapai sekitar 1,1 juta penumpang setiap hari. Pada kondisi tertentu, jumlah tersebut bahkan dapat menembus 1,3 juta penumpang dalam sehari.
Di sisi lain, KAI menghadapi kebutuhan untuk mengganti sejumlah trainset lama yang masa pakainya telah lebih dari empat dekade. Kondisi tersebut membuat kebutuhan armada bukan hanya berkaitan dengan penambahan kapasitas, tetapi juga regenerasi kereta yang sudah berusia tua.
Baca Juga: KAI Commuter Operasikan Kembali 1 KRL Buatan Lokal di Lintas Bogor
KAI sebenarnya telah menjalankan pengadaan KRL baru sejak 2024. Sebanyak 27 rangkaian kereta baru telah dikontrak dengan total 324 unit gerbong untuk memperkuat armada KRL Jabodetabek.
Dari jumlah tersebut, 11 trainset diimpor dari China dan diproduksi oleh CRRC. Sementara 16 trainset lainnya diproduksi di dalam negeri oleh PT INKA.
Hingga saat ini, 18 dari 27 trainset baru tersebut telah beroperasi. Jumlah itu terdiri dari seluruh 11 rangkaian produksi CRRC dan tujuh rangkaian produksi INKA atau total 216 kereta.
Dengan demikian, usulan 23 trainset bukan baru dari Jepang menjadi bagian dari upaya KAI menjembatani kebutuhan armada sambil pengadaan kereta baru terus berjalan. Tambahan tersebut diharapkan dapat membantu menghadapi pertumbuhan penumpang sekaligus kebutuhan penggantian kereta yang sudah berusia lebih dari 40 tahun.
KAI juga harus memperhitungkan kondisi infrastruktur dalam menentukan konfigurasi rangkaian. Karena itu, tidak seluruh tambahan armada akan menggunakan rangkaian 12 kereta, melainkan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing lintasan dan stasiun.
