
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot masih tertekan di awal perdagangan hari ini. Jumat (25/9/2026). Rupiah dibuka di level Rp 17.935 atau melemah 0,11% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya di level Rp 17.916 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut pada perdagangan hari ini. Menurutnya, rupiah berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di rentang Rp17.910 hingga Rp18.000 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah meningkatnya risiko eksternal yang dihadapi perekonomian Indonesia. Ibrahim menilai keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan pada September, setelah tiga bulan berturut-turut stabil, masih menghadapi tantangan dari perkembangan ekonomi global.
Risiko tersebut antara lain berasal dari meningkatnya imbal hasil global, pergerakan harga minyak yang fluktuatif, serta ketidakpastian geopolitik yang berpotensi kembali mendorong penguatan dolar AS.
Di sisi lain, pembuat kebijakan juga harus menghadapi perlambatan pertumbuhan ekonomi, konsumsi rumah tangga yang masih menghadapi tekanan, serta sentimen pasar yang rentan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan sensitivitas rupiah terhadap penguatan dolar AS maupun arus keluar modal asing.
Baca Juga: IHSG Rawan Tertekan, Tekanan Global dan Rupiah Jadi Perhatian Investor
Baca Juga: Temui Gubernur BI, Suahasil Bahas Surat Utang Negara hingga Persoalan Rupiah
Menurut Ibrahim, tekanan terhadap mata uang kawasan perlu menjadi perhatian BI. Jika pelemahan rupiah berlangsung berkelanjutan, dampaknya dapat merembet ke inflasi melalui kenaikan harga barang impor dan biaya produksi.
Risiko tersebut semakin besar apabila harga minyak dunia kembali menembus US$100 per barel. Kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya impor dan memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.
“Jika tekanan terhadap mata uang kawasan terus berlanjut, maka BI perlu menjaga agar pelemahan rupiah tidak berkembang menjadi tekanan inflasi yang lebih persisten,” jelasnya.
