Friday, September 25News That Matters

Pertemuan Panas Trump-Xi Jinping! Raksasa Aviasi Boeing Terancam Kehilangan Pesanan 200 Pesawat China!


Wacana Berita, Jakarta –

Kesepakatan pembelian 200 pesawat Boeing oleh China kini menjadi perhatian menjelang pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada Kamis (24/9/2026). Boeing justru menghadapi ketidakpastian untuk memastikan kesepakatan yang sebelumnya dicapai pada Mei tersebut benar-benar terealisasi.

Produsen pesawat asal AS itu sebelumnya sempat berharap pertemuan Trump dan Xi dapat membuka jalan bagi pesanan tambahan dalam jumlah besar. Namun, harapan tersebut kini meredup dan Boeing lebih fokus mempertahankan komitmen pembelian 200 pesawat yang sudah disepakati.

Dua sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan Boeing tidak lagi menjadikan KTT Trump-Xi sebagai momentum utama untuk mendapatkan pesanan baru dalam jumlah besar. Mereka meminta identitasnya tidak disebut karena pembicaraan berlangsung secara tertutup.

Kesepakatan 200 pesawat tersebut dicapai bersamaan dengan pertemuan Trump dan Xi pada Mei lalu. Bagi Boeing, kesepakatan itu menjadi peluang untuk kembali memperkuat posisi di pasar penerbangan China setelah praktis kehilangan akses sejak 2017.

Besarnya pasar China membuat peluang tersebut bernilai penting bagi Boeing. Airbus dan Boeing memperkirakan kebutuhan China dapat mencapai sekitar 9.000 pesawat jet baru hingga 2045, menjadikannya salah satu pasar penerbangan terbesar di dunia.

Sebelum kesepakatan Mei tercapai, pembicaraan antara pejabat China, AS, dan Boeing sempat mengarah pada kemungkinan pembelian hingga 500 pesawat. Namun, kesepakatan akhirnya hanya menghasilkan komitmen untuk 200 unit.

CEO Boeing Kelly Ortberg sebelumnya menyebut pesanan tersebut sebagai tahap awal. Meski demikian, ekspektasi muncul bahwa jumlahnya dapat bertambah ketika Trump dan Xi kembali bertemu, tetapi Ortberg belakangan meredam harapan tersebut.

“Sebuah kemenangan jika pesanan 200 pesawat itu bisa diselamatkan,” ujar Richard Aboulafia, Direktur Pelaksana AeroDynamic Advisory.

Keraguan juga datang dari pengamat hubungan AS-China. Scott Kennedy dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) menilai pembelian pesawat bukan agenda utama dalam pertemuan Trump-Xi. Kedua negara disebut lebih berkonsentrasi pada gencatan senjata perdagangan, teknologi kecerdasan buatan, Taiwan, kedelai, hingga pasokan mineral tanah jarang.

“Pesanan pesawat baru akan menjadi keuntungan, tetapi menurut saya itu bukan suatu keharusan bagi KTT ini,” kata Kennedy.

Di sisi lain, Boeing harus menghadapi persaingan yang semakin kuat dari Airbus di China. Airbus memiliki fasilitas perakitan akhir di Tianjin, sementara hubungan China dengan Eropa dinilai lebih harmonis dibandingkan hubungan Beijing dan Washington.

“Boeing telah kehilangan banyak pengaruhnya di kawasan kita, sebagian karena faktor politik, namun terutama akibat masalah internal perusahaan itu sendiri,” kata Shukor Yusof, pendiri konsultan penerbangan Endau Analytics.

Baca Juga: Beda dengan Trump Saat ke China, Xi Jinping Tak Bawa Pebisnis ke AS

Meski demikian, peluang mempertahankan kesepakatan 200 pesawat belum sepenuhnya hilang. Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menyebut sekitar 140 pesanan Boeing masih berstatus baik, sementara 10 lainnya sedang dalam tahap finalisasi. Jika rincian akhir berhasil diselesaikan, sebagian kesepakatan Mei berpotensi diumumkan dalam KTT Trump-Xi.

Sebelumnya, kepastian pasokan suku cadang Boeing sempat menjadi kekhawatiran China. Pemerintah China pada Mei menyatakan AS telah memberikan jaminan mengenai pasokan suku cadang dan komponen mesin pesawat sebagai bagian dari kesepakatan tersebut. Pada saat yang sama, AS dan China juga memperpanjang gencatan senjata perdagangan selama dua bulan, sehingga masih terbuka ruang bagi kedua negara untuk merampungkan sejumlah kesepakatan ekonomi



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *