
Primaya Hospital mengatakan pelemahan rupiah mulai menekan biaya pengadaan sejumlah barang, terutama alat kesehatan berteknologi tinggi dan obat-obatan yang masih harus diimpor.
Chief Executive Officer Primaya Hospital Leona A. Karnali mengatakan ketergantungan terhadap sejumlah produk impor membuat pergerakan nilai tukar rupiah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga pengadaan.
“Terkait kurs rupiah, karena tentunya masih ada barang-barang terutama yang high-tech itu memang kita masih ada impor, juga mungkin juga beberapa obat. Itu memang mau tidak mau ada kenaikan harga di sana dengan kurs rupiah yang saat ini,” ujar Leona saat menjawab pertanyaan Wacana Berita dalam konferensi pers Primaya Fair 2026 di AEON Mall BSD City, Rabu (23/9/2026).
Baca Juga: Danantara Dorong Bio Farma Bawa Industri Kesehatan RI ke Pasar Global
Baca Juga: Kembangkan Kawasan Kesehatan dan TOD, JIEP Siapkan Ekspansi Bisnis hingga 2030
Baca Juga: SILO Siapkan Rp6,91 Triliun untuk Akuisisi 14 Perusahaan dalam 2 Tahap
Menurut Leona, tekanan dari perubahan kurs tersebut dihadapi dengan sejumlah strategi untuk menjaga kenaikan biaya tetap terkendali. Salah satunya melalui hubungan kerja sama dengan principal pemasok.
“Tetapi memang kita secara grup ada juga beberapa hal yang bisa kita lakukan, karena kita mungkin punya kerja sama yang lebih terikat dengan principal-principal yang kita gunakan sehingga kita dapat menjaga kenaikan harga tersebut tidak terlalu melonjak tinggi,” ujarnya.
Pada Rabu (23/9/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tercatat berada di level Rp17.884 per dolar AS.
