
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Selasa (22/9/2026). Mata uang Garuda terparkir Rp17.884 atau melemah 37 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.847 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah tidak lepas dari keputusan Presiden Prabowo Subianto pekan lalu untuk mengganti Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan Suahasil Nazara. Keputusan tersebut turut memengaruhi sentimen terhadap mata uang rupiah.
“Di sisi lain, kenaikan harga minyak mentah juga menambah tekanan terhadap negara-negara pengimpor energi,” kata Ibrahim kepada wartawan.
Selain itu, para pembuat kebijakan juga tengah memperdebatkan revisi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 yang berpotensi membuka ruang bagi defisit anggaran yang lebih tinggi untuk membiayai program sosial dan kesejahteraan. Di mana, Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan, pembahasan mengenai batas atas defisit sebesar 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) harus dilakukan secara konstruktif.
“Sementara itu, batas rasio utang sebesar 60% terhadap PDB tetap menjadi bagian dari kerangka pengelolaan APBN,” ungkap dia.
Baca Juga: Resmi! Pemerintah Lunasi Utang Obligasi BLBI Rp218,3 Triliun kepada Bank Indonesia
Baca Juga: Rupiah Dibuka Melemah, Pasar Cermati Arah Suku Bunga BI
Di sisi moneter, Bank Indonesia (BI) akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya. BI juga melakukan pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang melalui penguatan strategi operasi moneter yang pro-market.
Selain itu, BI akan memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar dan menjaga kecukupan likuiditas melalui transaksi underlying untuk swap lindung nilai dengan pemberian insentif.
“Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Dengan posisi cadangan devisa sebesar US$146,5 miliar, BI masih memiliki ruang yang cukup untuk melakukan intervensi di pasar,” tegas dia.
