Tuesday, September 22News That Matters

Kisah Faisal Weskurni, Korban Selamat KM Virgo 8: Ada Ledakan, Tanpa Alarm Peringatan


KORAN MANDALA –Malam itu, Minggu (13/9/2026), suasana perairan membentang dalam kondisi yang relatif tenang dari gempuran cuaca ekstrem.

Tidak ada gumpalan awan hitam yang memuntahkan hujan, sementara hembusan angin malam pun dirasakan tergolong normal dan tidak terlalu kencang.

Namun, di balik tenang atmosfer malam tersebut, gelombang lautan bergolak hebat. Gulungan ombak terhempas deras, mengalun tinggi dengan perkiraan mencapai 2,5 hingga 3 meter.

Tanah Bergerak, Dua Ruang Kelas MI Tegalkoneng Bandung Barat Ambruk

Di tengah kondisi laut yang bergejolak itu, sebuah musibah mendadak melanda KM Virgo. Sebanyak 117 korban dari total 243 penumpang yang tercatat dalam manifest telah ditemukan.

Dari jumlah tersebut, 108 dinyatakan selamat, sementara 9 orang lainnya meninggal dunia.

Waktu menunjukkan sekitar pukul 00.15 WIB ketika situasi berubah total menjadi kepanikan masal. Faisal Weskurni (25), warga kampung Parakan Tolok, Desa Wangunsari, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat (KBB), salah satu penumpang yang menjadi korban selamat dalam tragedi tersebut, mengingat betul detik-detik saat naluri bertahannya diuji.

Begitu menyadari ada bahaya yang mengancam, fokus utamanya hanya satu, mencari alat keselamatan.

Setelah berhasil mengamankan dan mengambil pelampung, Faisal langsung bergerak cepat berjuang naik ke dek atas kapal untuk menyelamatkan diri.

Begitu melangkahkan kaki di bagian atas, pemandangan memilukan dan mencekam langsung tersaji di depan matanya.

Suara teriakan dan jeritan bersahut-sahutan memecah kegelapan malam dari para korban yang sudah tercebur dan berjuang di tengah lautan.

“Banyak orang-orang yang meminta tolong yang tenggelam,” kenang Faisal.

Sebelum kapal berada dalam posisi darurat dan mengapung tak berdaya, Faisal sempat mendengarkan sebuah tanda awal yang menjadi muara bencana malam itu. Sebuah suara benturan keras mendadak menggelegar dari lambung kapal.

“Sebelum kejadian sempat mendengar suara ngabeledug di sebelah kiri kapal, abis itu miring,” ujar Faisal

Hanya berselang singkat setelah posisi kapal miring, kondisi di KM Virgo kian kacau lantaran sistem kelistrikan runtuh. Pasokan cahaya padam seketika di bagian vital kapal.

Area belakang kapal mendadak berubah gelap gulita tanpa menyisakan penerangan sedikit pun, sementara hanya bagian depan kapal yang masih menyisakan sedikit titik cahaya di tengah kegelapan malam.

Di tengah kondisi darurat yang menuntut evakuasi cepat, Faisal menyoroti ketiadaan prosedur Peringatan Dini (SOP) keselamatan dari pihak kapal.

Saat ia dan para penumpang berjuang menyelamatkan diri menuju bagian atas, tidak ada satu pun tanda bahaya resmi yang dibunyikan untuk memandu atau memperingatkan penumpang.

Atmosfer evakuasi berjalan dalam kekosongan informasi resmi. Tak ada nada peringatan maupun gaung sirine yang bergema di dalam ruangan kapal untuk memberi tahu seluruh orang bahwa armada yang mereka tumpangi berada dalam kondisi kritis dan hendak tenggelam.

“Pas naik ke atas, itu kan di dalam kapal tidak ada sirine alarm pemberitahuan bahwa kapal mau tenggelam,” tegas Faisal.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *