Tuesday, September 22News That Matters

Bos Anthropic Khawatir AI Musnahkan Manusia, Jensen Huang: Jangan Takut-takuti Orang


Wacana Berita, Jakarta –

Nvidia dan sejumlah perusahaan pengembang kecerdasan buatan (AI) berbeda pandangan mengenai kecepatan pengembangan teknologi tersebut. CEO Nvidia Jensen Huang menolak kekhawatiran bahwa AI akan membawa kehancuran umat manusia dalam beberapa tahun mendatang, sementara pimpinan Anthropic dan OpenAI mendorong pengembangan AI tingkat lanjut dilakukan dengan lebih terukur.

Perdebatan menguat setelah peneliti senior Anthropic sekaligus mantan karyawan OpenAI, Jacob Coxon, mengumumkan pengunduran dirinya pada 9 September 2026. Coxon mengatakan pengembangan AI menuju kecerdasan super yang mampu meningkatkan dirinya sendiri berlangsung terlalu cepat dan berisiko bagi manusia.

“Selama tiga tahun terakhir, saya telah mempelajari proses pra-pelatihan AI di Anthropic dan OpenAI. Kedua perusahaan tersebut tidak bertindak secara bertanggung jawab. Mereka langsung menuju kecerdasan super yang mampu meningkatkan diri sendiri, mempertaruhkan hidup kita,” tulis Coxon di X.

Pernyataan tersebut mendapat respons dari Evan Hubinger, Kepala Grup Ilmu Penyesuaian Anthropic. Ia mengatakan risiko AI terhadap manusia merupakan kekhawatiran yang nyata.

“Jacob benar. Kami benar-benar percaya AI dapat memusnahkan umat manusia. Secara pribadi, saya pikir probabilitasnya lebih dari 10% dalam dekade berikutnya,” tulis Hubinger.

CEO Anthropic Dario Amodei kemudian menyerukan perhatian lebih besar terhadap risiko seiring perkembangan AI yang semakin cepat. Dalam esai yang dipublikasikan pada September, Amodei mengatakan perkembangan tersebut dapat menghadirkan risiko baru dalam waktu dekat.

“Dengan pesatnya perkembangan AI, saya khawatir dalam 6-12 bulan ke depan, ‘gerombolan AI’ semacam itu dapat mengambil alih seluruh internet,” kata Amodei.

Amodei mengusulkan sejumlah langkah untuk memperkuat keamanan AI tanpa mengurangi posisi Amerika Serikat dalam persaingan teknologi. Salah satunya memberikan akses kepada pihak ketiga untuk memeriksa sistem keamanan perusahaan AI dan melaporkan insiden.

Ia juga mendorong perusahaan AI besar menyusun standar keamanan bersama serta pemerintah berbagai negara meningkatkan koordinasi dalam menghadapi perkembangan teknologi tersebut.

Pandangan Amodei mendapat dukungan CEO OpenAI Sam Altman. Meski Anthropic dan OpenAI bersaing dalam pengembangan AI, Altman menyatakan perlunya menyesuaikan kecepatan pengembangan AI tingkat lanjut.

“Saya setuju dengan Dario bahwa kita perlu menyesuaikan kecepatan pengembangan AI tingkat lanjut. Ini telah menjadi topik utama dalam diskusi kami di OpenAI selama beberapa minggu terakhir,” tulis Altman di X pada 12 September.

Presiden DeepMind sekaligus Chief Scientist Alphabet Demis Hassabis juga menilai pendekatan tersebut layak dipertimbangkan. Ia mengusulkan pembentukan badan standar global untuk mengatur perkembangan AI.

Jensen Huang Tolak Perlambatan AI

Berbeda dengan Amodei dan Altman, CEO Nvidia Jensen Huang menolak anggapan bahwa AI akan menyebabkan kehancuran umat manusia dalam beberapa tahun mendatang. Huang menyebut prediksi tersebut tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat.

Huang menyatakan tidak percaya dunia akan berakhir akibat AI pada 2030. Ia juga menanggapi pernyataan Coxon yang memperingatkan potensi AI mencapai tingkat kecerdasan di atas manusia dan memicu kepunahan umat manusia dalam dekade ini.

“2030 tidak akan menjadi akhir dunia. Ada 0% kemungkinan itu akan menjadi akhir dunia. Menakut-nakuti orang itu tidak perlu. Hal itu tidak bertanggung jawab,” ujar Huang dalam wawancara dengan CBS News.

Baca Juga: Bos Nvidia Jensen Huang Setuju Sama Trump yang Sebut Bahaya AI, Saham Nvidia Anjlok 3,4 Persen

Baca Juga: Saham Nvidia Melejit, Kekayaan Jensen Huang Naik Rp263 Triliun dalam Sehari

Huang juga menyatakan pengembangan AI seharusnya tetap berjalan cepat, dengan keselamatan menjadi bagian dari proses pengembangan. Ia menilai perusahaan AI memiliki kepentingan bisnis sekaligus tanggung jawab hukum untuk memastikan produk dan layanan yang dikembangkan tidak menimbulkan kerugian.

“Kesuksesan perusahaan kami berkaitan erat dengan penerapan produk dan layanan yang aman. Jika kami tidak terus melakukannya, nilai kami akan berkurang. Ada berbagai bentuk tanggung jawab hukum yang terkait dengan keamanan siber (dan hukum pertanggungjawaban atas kerusakan). Terapkanlah hal itu terlebih dahulu. Jangan biarkan narasi tentang kiamat ini menjadi alasan bagi siapa pun untuk melepaskan diri dari ketentuan hukum yang berlaku saat ini,” tuturnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *