Monday, September 21News That Matters

Komdigi Ungkap AI Bikin Informasi Asli Makin Sulit Dibedakan


Wacana Berita, Jakarta –

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menilai perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat batas antara informasi autentik dan konten manipulatif semakin sulit dikenali.

Menurut Nezar, kemampuan AI menghasilkan misinformasi, disinformasi hingga deepfake yang menyerupai kenyataan membuat masyarakat membutuhkan kemampuan lebih kuat untuk memilah informasi yang diterima.

“Trust ini sangat penting karena merupakan faktor utama yang membuat publik mau masuk ke dalam satu layanan berbasis digital. Dari sisi komunikasi, hal mendasar dalam penggunaan AI adalah memastikan adanya information integrity sehingga dapat dipertanggungjawabkan dan kredibel,” ujar Nezar dalam The 5th IABC Indonesia Conference & Awards 2026 bertema “Driving Communications Impact: Building Trust in the Age of AI” di Jakarta, Jumat (18/9/2026).

Nezar mengatakan persoalan tersebut semakin penting ketika AI digunakan dalam layanan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Kesalahan sistem AI, menurutnya, berpotensi berdampak kepada publik sekaligus memengaruhi tingkat kepercayaan terhadap layanan pemerintah.

Karena itu, penerapan AI perlu dibarengi sejumlah mekanisme pengamanan, termasuk safeguards, pengujian, sandboxing, kepatuhan, dan evaluasi secara ketat. Langkah tersebut diperlukan agar sistem AI yang digunakan publik tetap dapat diandalkan.

Selain pengamanan sistem, peningkatan literasi digital juga menjadi bagian penting dalam menghadapi derasnya konten berbasis AI. Masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk mengenali informasi yang dapat dipercaya di tengah konten yang semakin mudah dibuat dan disebarkan.

Presiden IABC Indonesia sekaligus CEO VMCS Communications and Social Impact Elvera N. Makki mengatakan perkembangan tersebut turut menggeser peran komunikator. Menurutnya, tantangan komunikasi saat ini bukan lagi sekadar bagaimana informasi disampaikan kepada sebanyak mungkin orang.

“Komunikator memiliki peran penting dalam membantu masyarakat menentukan informasi yang layak dipercaya. Di tengah begitu banyak informasi yang sama-sama terlihat meyakinkan, tantangannya bukan lagi mendapatkan informasi, tetapi menentukan mana yang benar,” ujar Elvera.

Ia menilai komunikator perlu membantu publik menavigasi informasi dengan membuat kebenaran lebih mudah diverifikasi secara cepat dan akurat. Dengan demikian, komunikasi tidak berhenti pada penyebaran pesan, tetapi turut membantu masyarakat mengambil keputusan berdasarkan informasi yang lebih dapat dipertanggungjawabkan.

Elvera juga menekankan bahwa ukuran keberhasilan komunikasi perlu mengalami perubahan di tengah perkembangan AI.

“Reach, engagement, dan kecepatan distribusi tetap relevan, tetapi tidak lagi cukup. Komunikasi yang berdampak harus menghasilkan pemahaman, memperkuat kepercayaan, membantu publik mengambil keputusan yang lebih terinformasi, dan mendorong perubahan perilaku,” katanya.

Baca Juga: IABC Indonesia: Disrupsi Kepercayaan di Era AI Lahirkan Mandat Baru bagi Komunikator

Baca Juga: Pakai AI Bikin Boros Air dan Listrik, Wamen Stella Bilang Indonesia Justru Punya Peluang

Baca Juga: Fokus pada AI dan Coding, Acer Kembali Gelar Smart School Awards 2026

Isu tersebut menjadi perhatian dalam konferensi IABC Indonesia yang tahun ini membahas hubungan antara komunikasi, teknologi, dan kepercayaan publik di era AI. IABC Indonesia menyebut diskusi tersebut diarahkan untuk melihat bagaimana organisasi dapat mempertahankan kredibilitas ketika produksi dan distribusi informasi semakin mudah dilakukan dengan bantuan teknologi.

Laporan Reuters Institute Digital News Report 2026 turut menunjukkan tantangan kepercayaan terhadap informasi. Tingkat kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap berita tercatat 32 persen, turun dari 36 persen pada 2025 dan berada di bawah rata-rata global sebesar 37 persen.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *