
Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) sekaligus penggerak utama Aksi Kamisan, Maria Catarina Sumarsih, kembali menyuarakan kekecewaan mendalamnya terhadap eks Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Ibunda dari Bernardinus Realino Norma Irawan (Wawan), mahasiswa korban Tragedi Semanggi I 1998 ini, secara blak-blakan mengaku telah tertipu oleh janji-janji manis Jokowi di masa lalu.
Melalui keterangannya, Ibu Sumarsih menyoroti bagaimana murninya perjuangan Aksi Kamisan justru sempat dieksploitasi sebagai bahan kampanye pada Pemilu 2014 silam, tanpa adanya realisasi nyata hingga Jokowi purnatugas.
“Saya ditipu oleh Pak @jokowi dengan telak. @AksiKamisan di Jakarta dipakai untuk kampanye pemilu 2014 di televisi. Janji menyelesaikan tragedi Semanggi I, Semanggi II, Trisakti dan menghapus impunitas, tidak terbukti,” ungkap Ibu Sumarsih dengan getir.
Pernyataan menohok dari Ibu Sumarsih ini tidak muncul begitu saja. Ungkapan tersebut merupakan respons atas cuitan kritis dari pegiat media sosial, Ahmad Arif.
Dalam cuitannya, Arif membedah dan membandingkan gaya komunikasi politik antara Jokowi dan Prabowo Subianto yang terjadi pada hari yang sama.
Arif menyoroti agenda Jokowi yang blusukan ke tenda pengungsi gempa di Pulau Palue bersama putranya sebulan pasca-bencana.
Di sisi lain, ia mengontraskan momen tersebut dengan kemunculan Prabowo di meja bundar Hambalang dalam sebuah format gelar wicara (podcast) terkontrol bersama wartawan pilihan selama 3,5 jam.
“Satu naik kapal kayu, pakai kain adat, dengar keluhan air bersih dan lampu mati, menginap, lalu pergi. Satu duduk di studio, kamera diatur, pertanyaan disaring… Gaya memang beda. Jokowi jual kedekatan. Prabowo membuat panggung terkontrol,” analisis Arif dalam cuitannya.
Lebih lanjut, Arif menilai bahwa meskipun kemasan politik kedua tokoh tersebut bertolak belakang, substansi yang dihadirkan sebenarnya sama. Kunjungan ala merakyat maupun pidato satu arah di studio dinilai hanyalah ilusi dari sistem negara yang gagal bekerja untuk rakyat.
Program-program yang ditawarkan pun, menurutnya, kerap hanya menjadi bahan pembenaran tanpa ada evaluasi yang berarti. Buktinya, usai dikunjungi, warga korban gempa di Palue pada akhirnya tetap merana di tenda pengungsian.
“Jangan tertipu kemasan. Tenda gelap atau meja hijau, keduanya komunikasi kekuasaan. Bukan pertanggungjawaban. Dan kursi Prabowo tidak jatuh dari langit. Ia produk dari struktur yang Jokowi kunci. Gaya bisa diganti. Dampaknya ke rakyat tidak,” tegas Arif.
Rentetan kritik tersebut ditutup oleh Arif dengan sebuah pertanyaan reflektif yang akhirnya memicu ingatan pahit Ibu Sumarsih tentang janji penuntasan kasus HAM berat.
“Masalahnya, sampai kapan rakyat Indonesia bisa ditipu?” tutup Arif yang langsung disambut oleh kesaksian Ibu Sumarsih.
