Friday, September 18News That Matters

Korupsi Dibiarkan agar Prabowo Terpilih Kembali?


Wacana Berita, Jakarta –

Guru Besar Bidang Ilmu Pemikiran Islam, Hasyim Muhammad, mengungkapkan pandangannya terkait Presiden Prabowo Subianto dan upaya pemberantasan korupsi.

Menurut Hasyim, jika dirinya mencoba berhusnuzan atau berprasangka baik kepada Prabowo, maka ia memiliki asumsi bahwa Presiden sengaja membiarkan korupsi di kalangan bawahannya untuk menjaga dukungan politik menjelang Pilpres 2029.

Baca Juga: Pendidikan Gibran di UTS Sydney Disorot: Apa Kurang Lulusan ITB, UI, dan UGM untuk Jadi Capres?

“Jika harus berhusnuzan ke Prabowo, maka saya punya opini: Prabowo membiarkan semua bawahannya untuk melakukan korupsi itu agar ia terpilih lagi di tahun 2029,” tulisnya di akun X pribadinya, dikutip Jumat (18/9).

“Maksud saya, dia memang tidak mencegah. Dia tidak secara tegas mengingatkan timnya untuk bersih dari korupsi,” lanjutnya.

Menurut Hasyim, bisa saja Prabowo sengaja merangkul banyak pihak yang diduga terlibat praktik korupsi karena jaringan mereka dinilai luas dan memiliki pengaruh yang kuat.

“Mungkin saja, Prabowo memang ingin “merangkul” banyak koruptor itu karena para koruptor (yang sekarang beroperasi dan belum tertangkap) itu berjejaring sangat kuat,” ujarnya.

Ia juga menyinggung kasus-kasus korupsi yang telah terungkap, yang menurutnya melibatkan banyak pihak dengan nilai kerugian yang sangat besar.

“Lihat saja koruptor yang kebetulan sudah tertangkap. Uangnya ratusan miliar. Yang terlibat banyak orang dari atas sampai bawah,” katanya.

Hasyim turut menyoroti dua program prioritas pemerintahan Prabowo, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), yang menurutnya melibatkan banyak pihak dalam perputaran ekonomi.

“Belum lagi kalau bicara MBG dan Kopdes. Berapa banyak keluarga yang sekarang ini terlibat dalam “putaran uang” MBG dan Kopdes di seluruh Indonesia!” ujarnya.

Menurut Hasyim, pengawasan terhadap kedua program tersebut masih lemah. Ia menyinggung munculnya kasus hukum yang melibatkan pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) serta berbagai persoalan dalam pelaksanaan program koperasi desa.

“Dan kita tahu pengawasan begitu lemah. Terbukti, Kepala BGN jadi tersangka korupsi. Lalu pengadaan barang di Kopdes begitu masif tanpa perencanaan yang matang,” katanya.

Hasyim berpendapat bahwa jaringan yang terbentuk dari penggunaan anggaran negara dalam program-program tersebut berpotensi memiliki pengaruh politik menjelang Pemilu 2029.

“Semua jaringan yang pakai uang negara itu pastinya sangat kuat dan sangat mungkin memengaruhi pemilih di 2029,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia beranggapan bahwa kondisi tersebut sengaja dibiarkan terjadi pada periode pertama pemerintahan Prabowo.

Baca Juga: Sindiran Telak Dokter Tifa: Jokowi Ngaku Pensiun dan Tak Bisa Berbuat Apa-apa, Ngapain ke NTT?

“Nah, menurut saya semua itu memang dibiarkan. Uang sengaja dihambur-hamburkan untuk periode pertama ini. Baru nanti di periode kedua itulah Prabowo akan menyikat habis para koruptor karena dia tak lagi punya kepentingan di 2034,” ungkapnya.

“Begitulah husnuzan saya. Dan meski ketika saya husnuzan pun, sama saja pemerintahan tetap terlihat sebusuk itu karena membiarkan korupsi tumbuh saat ini,” tandasnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *