
KORAN MANDALA – Bagi Rahmat Sudwisno, aliran Sungai Cangkorah di Kampung Pasir Astana, Desa Cangkorah, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), bukan sekadar aliran air. Sungai itu menyimpan kenangan masa kecil yang masih melekat hingga kini.
Pria yang lahir dan besar di kampung tersebut masih mengingat kondisi sungai pada era 1970-an. Saat itu, air sungai disebutnya masih jernih dan menjadi tempat bermain anak-anak kampung selepas pulang sekolah.
Rahmat kecil kerap datang ke sungai untuk berenang atau mencari ikan-ikan kecil. Aktivitas sederhana itu menjadi bagian dari keseharian warga sebelum kawasan tersebut berkembang menjadi wilayah yang dipadati aktivitas industri.
Pembuangan Sampah Ilegal, Apakah Pengawasan Pemkot Bandung Berjalan?
“Kalau dulu kan saya biasa mandi di sini, pulang sekolah juga ke sini. Tahun 1970-an airnya masih bening. Ikan-ikan kecil seperti ikan benter dan impun banyak sekali,” kenang Rahmat.
Kini, pemandangan tersebut berubah. Aliran sungai yang dahulu menjadi ruang bermain warga kini menghadapi persoalan pencemaran. Rahmat menyebut kondisi air tidak lagi memungkinkan warga memanfaatkannya seperti dulu.
“Kalau sekarang, jangankan ikan kecil, ikan besar saja mati semua,” ujarnya.
Perubahan lingkungan juga terjadi seiring berkembangnya kawasan industri di sekitar sungai. Bangunan pabrik dan aktivitas industri kini menjadi bagian dari lanskap yang berbeda jauh dibandingkan suasana yang dikenang Rahmat pada masa kecilnya.
Dampak perubahan kondisi sungai turut dirasakan warga yang menggantungkan aktivitasnya pada sumber air tersebut. Selain pertanian, sektor perikanan yang sebelumnya memanfaatkan perairan di kawasan itu kini disebut semakin sulit berkembang.
“Air di sini juga dipakai untuk pertanian. Kalau untuk perikanan, sekarang sudah tidak ada lagi yang punya kolam terapung karena airnya sudah tidak sehat,” kata Rahmat.
Bagi warga, persoalan sungai bukan hanya tentang hilangnya tempat bermain atau berkurangnya ikan. Kondisi tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan dasar masyarakat terhadap air bersih.
Di tengah persoalan itu, Rahmat masih menyimpan harapan sederhana. Ia ingin sungai yang menjadi bagian dari masa kecilnya kembali memiliki air yang bersih dan dapat dimanfaatkan warga.
“Kalau kepengin mah, saya cuma minta airnya bersih lagi. Apalagi sekarang di sini sudah krisis air. Jangankan untuk diminum, untuk mandi saja susah, buat cuci baju juga harus antre menunggu giliran,” tuturnya.
Bagi Rahmat, kejernihan Sungai Cangkorah bukan sekadar kenangan masa lalu. Air yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kini menjadi pengingat tentang perubahan lingkungan yang dirasakan warga dari generasi ke generasi.
