
PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) mendapat tekanan kuat di pasar saham setelah Presiden Direktur Adrianto Pitojo Adhi termasuk dalam 17 orang yang terjaring operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Respons investor terlihat sepanjang perdagangan Selasa (15/9/2026). Saham SMRA langsung tertekan dan ditutup anjlok 13,25% atau 44 poin ke level Rp288 per saham.
Pada awal perdagangan, SMRA masih dibuka di Rp328 dan sempat menyentuh level tertinggi Rp330. Namun, tekanan jual kemudian membawa saham perseroan hingga menyentuh Rp284 sebagai level terendah perdagangan.
Di perdagangan Rabu (16/9/2026), saham SMRA sempat anjlok ke level Rp284 per saham, meski kembali naik ke posisi Rp296-302 per saham.
Dalam waktu satu bulan, saham SMRA telah turun 9,58%, sedangkan sepanjang tahun 2026 atau year to date (ytd) telah turun 21,88%.
Kinerja Semester I-2026 Melemah
Tekanan pasar terhadap SMRA datang ketika kinerja keuangan perseroan pada paruh pertama 2026 juga mengalami penurunan.
Hingga semester I-2026, Summarecon membukukan pendapatan Rp4,25 triliun. Angka tersebut turun 7,18% dibandingkan pendapatan Rp4,58 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan pendapatan turut diikuti penyusutan laba bersih. SMRA mencatat laba bersih Rp332,39 miliar, anjlok 33,98% secara tahunan.
Kontribusi terbesar pendapatan berasal dari segmen pengembangan properti yang mencapai Rp2,55 triliun. Berikutnya, properti investasi menyumbang Rp1,2 triliun, rekreasi dan perhotelan Rp249,62 miliar, serta segmen lainnya Rp244,04 miliar.
Di tengah pelemahan kinerja pendapatan dan laba, total aset perseroan justru tumbuh 7,72% menjadi Rp41,30 triliun.
Sementara itu, kinerja operasional Summarecon pada 2025 masih mencatat pertumbuhan positif.
Perseroan membukukan marketing sales sebesar Rp5,53 triliun, tumbuh 27% sekaligus melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp5 triliun.
Capaian tersebut ditopang pengembangan sembilan kawasan kota terpadu, yakni Kelapa Gading, Serpong, Bekasi, Bogor, Bandung, Karawang, Makassar, Crown Gading, dan Tangerang.
Baca Juga: Bos Summarecon Agung Terjaring OTT KPK, Kasus HGB di Bogor Jadi Sorotan
Baca Juga: Nusron Wahid Absen Rapat DPR Sehari Usai OTT KPK, Ahmad Doli Buka Suara
Baca Juga: 20 Koper Uang Ratusan Miliar Ditemukan di Rumah Gus Arif, KPK Dalami Dugaan Keterkaitan Nusron Wahid
Permintaan terhadap produk properti baru, terutama segmen menengah dan menengah atas, menjadi salah satu penopang marketing sales. Perseroan menilai daya beli di kedua segmen tersebut masih menunjukkan ketahanan di tengah tantangan ekonomi.
Konsep kawasan terintegrasi, kualitas pembangunan, inovasi produk, serta prospek nilai investasi jangka panjang menjadi sejumlah faktor yang diandalkan Summarecon untuk mempertahankan permintaan pasar.
Selain mencatat pertumbuhan marketing sales, Summarecon tetap membagikan dividen tunai untuk tahun buku 2025 sebesar Rp82,54 miliar.
Pembagian tersebut setara sekitar 10,76% dari laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp766,55 miliar. Dengan demikian, dividen yang diterima pemegang saham mencapai Rp5 per saham.
