Saturday, September 26News That Matters

Mahasiswa Sebut Gejala Neo Orde Baru Muncul, Sampaikan Sejumlah Tuntutan di DPRD Jabar


WACANA BERITA – Ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Senin (15/6/2026).

Massa aksi menyuarakan sejumlah tuntutan kepada pemerintah, mulai dari penghentian Program Makan Bergizi Gratis (MBG), evaluasi program yang dinilai tidak prioritas, hingga penolakan terhadap kembalinya dwifungsi TNI dan Polri.

Salah satu peserta aksi, Abdurrahman Mohamid Abdul Malik Al-Barakati, mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, mengatakan demonstrasi tersebut merupakan bentuk keresahan masyarakat terhadap berbagai kebijakan pemerintah.

Menurutnya, aksi yang digelar bukan hanya gerakan mahasiswa, melainkan representasi aspirasi masyarakat yang menilai kondisi bangsa sedang tidak baik-baik saja.

“Kita dari seluruh elemen masyarakat. Mahasiswa memang menjadi bagian yang menginisiasi gerakan ini, tetapi keresahan ini milik masyarakat secara umum. Kami melihat ada ketidakadilan dan kesewenang-wenangan yang dilakukan pemerintah,” kata Abdurrahman Senin (15/6/2026)

Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa sejumlah tuntutan. Poin pertama yang disuarakan adalah penghentian pemborosan anggaran negara. Selain itu, mereka meminta pemerintah mengevaluasi berbagai program yang dianggap tidak mendesak di tengah berbagai persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat.

Tuntutan itu mencakup penghentian Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, penghentian proyek-proyek yang dinilai bukan prioritas, serta pembatasan kunjungan luar negeri pejabat negara.

Abdurrahman menilai intensitas kunjungan luar negeri yang dilakukan pemerintah saat ini lebih tinggi dibandingkan pemerintahan sebelumnya. Menurutnya, pemerintah seharusnya lebih fokus menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat di dalam negeri.

“Pemerintah dan Presiden memiliki kunjungan ke luar negeri yang lebih banyak dibandingkan presiden-presiden sebelumnya. Karena itu, kami meminta evaluasi terhadap kebijakan tersebut dan mendorong pemerintah lebih fokus pada persoalan domestik,” ujarnya.

Selain persoalan anggaran, massa aksi juga menyoroti situasi politik dan demokrasi yang dinilai mengalami kemunduran. Mereka mengkritik pengesahan revisi Undang-Undang TNI serta regulasi terkait kepolisian yang dianggap memperluas keterlibatan aparat keamanan dalam urusan sipil.

“Kami melihat gejala hadirnya neo -Orde Baru atau Orde Baru jilid dua. Bahkan kami menilai hal itu sudah terjadi karena dwifungsi TNI dan dwifungsi Polri mulai tampak dalam berbagai kebijakan yang ada,” katanya.

Ia menilai revisi UU TNI yang disahkan pada Maret tahun lalu dan regulasi terkait Polri tidak lahir dari kesepakatan masyarakat secara luas.

“RUU TNI yang disahkan pada Maret tahun lalu dan RUU Polri yang baru saja disahkan menurut kami bukan lahir dari kesepakatan masyarakat Indonesia sebagaimana mestinya. Kami melihat yang terjadi saat ini adalah matinya kepakaran. Kompetensi dan kapabilitas tidak lagi menjadi hal utama, yang dibutuhkan justru loyalitas,” ujarnya.

Lebih lanjut, Abdurrahman mengatakan mahasiswa akan terus menyuarakan aspirasi apabila tuntutan mereka tidak mendapat respons dari pemerintah.

Menurutnya, demonstrasi menjadi langkah terakhir setelah berbagai upaya penyampaian aspirasi melalui jalur audiensi dinilai belum menghasilkan tindak lanjut yang konkret.

“Kami tidak hanya menuntut, tetapi juga telah menyusun kajian dan menawarkan solusi terhadap persoalan yang kami angkat. Jika tuntutan ini tidak dihiraukan, tentu akan ada langkah lanjutan dari mahasiswa,” katanya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kondisi bangsa saat ini.

“Saya memohon kepada seluruh masyarakat Indonesia agar lebih aware dan memahami bahwa kondisi bangsa ini sedang tidak baik-baik saja,” ucapnya.

Terkait jumlah peserta aksi, Abdurrahman menyebut mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung mengerahkan sekitar 1.304 peserta. Sementara jumlah keseluruhan massa aksi dari berbagai kampus tidak diketahuinya karena koordinasi dilakukan oleh BEM Nusantara.

Meski sempat terjadi ketegangan di lokasi aksi, Abdurrahman memastikan demonstrasi berlangsung damai dan kondusif.

“Sejauh ini jalannya aksi kondusif dan insyaallah aksi ini adalah aksi damai. Kami tetap berkomitmen menyuarakan aspirasi secara damai dan tidak menginginkan terjadinya hal-hal yang tidak diharapkan,” pungkasnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *