Sunday, September 27News That Matters

Risiko Kebakaran Meningkat, Damkarmatan Kota Bandung Siaga Hadapi Musim Kemarau


WACANA BERITA –Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmatan) Kota Bandung memastikan kesiapannya dalam menghadapi musim kemarau yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran.

Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kota Bandung diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada bulan Juni 2026 dengan sifat hujan bawah normal atau lebih kering dari biasanya. Kondisi ini berpotensi meningkatkan kerawanan kebakaran, terutama di kawasan pemukiman padat.

Kepala Bidang Penyelamatan Damkarmatan Kota Bandung, Immanuel, menyebut potensi kebakaran memang cenderung meningkat saat musim kemarau atau saat tingkat kelembaban rendah.

Daya Tampung Menyusut, DPRD Bandung Desak Transparansi SPMB Diperkuat

“Dari pola kejadian memang lebih banyak didominasi bahwa kebakaran itu terjadi di musim kering atau yang kelembabannya rendah,” kata Immanuel kepada Koranmandala.com, Senin (4/5/2026).

Ia menjelaskan, meski risiko meningkat saat kemarau, kesiapan penanganan kebakaran telah dilakukan sejak jauh hari dan tidak bergantung pada musim tertentu. Ancaman kebakaran dinilai dapat terjadi kapan saja sehingga kesiapan peralatan dan personel menjadi bagian dari langkah rutin yang terus dijaga.

“Sebetulnya persiapan itu sudah dilakukan sebelum memasuki musim kemarau karena yang namanya ancaman kebakaran ataupun kedaruratan itu tidak mengenal musim,” ujarnya.

Menurutnya, perbedaan utama saat musim kemarau terletak pada penguatan dukungan di tingkat kewilayahan, terutama melalui Relawan Pemadam Kebakaran (Redkar). Relawan ini telah dibentuk di setiap kelurahan dan menjadi bagian dari respons awal ketika terjadi kebakaran.

Relawan Damkar tersebut terdiri dari tiga regu, yakni regu penyuluhan, regu komunikasi informasi, dan regu kedaruratan. Namun, Immanuel mengakui masih ada wilayah yang baru mampu membentuk dua regu karena keterbatasan sumber daya.

“Relawan Damkar itu sudah ada di masing-masing kelurahan. Yang sudah terbentuk itu kalau idealnya tiga regu, tapi ada juga yang masih dua regu. Itu jadi kekuatan kita untuk merespon awal apabila ada kejadian kebakaran,” jelasnya.

Selain penguatan di tingkat masyarakat, Damkarmatan juga memastikan koordinasi lintas instansi berjalan optimal, terutama dalam sistem pelaporan dan respons cepat. Masyarakat dapat melaporkan kejadian melalui dua kanal, yakni layanan darurat 112 dan 113 yang terhubung langsung dengan petugas.

Ia menambahkan, kecepatan respons menjadi kunci untuk menekan dampak kebakaran, terutama di kawasan pemukiman padat. Personel yang menuju lokasi telah dikoordinasikan melalui pusat panggilan agar langsung terhubung dengan unit pelaksana teknis terdekat.

“Jadi ketika misalnya kebakaran di timur, tidak mungkin dari pusat yang berangkat duluan. Pasti yang merespon awal itu dari UPT timur atau wilayah terdekat sesuai dengan wilayah terjadinya kebakarannya,” beber Immanuel.

Di sisi lain, Damkarmatan juga mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam pencegahan kebakaran. Immanuel mengimbau warga untuk lebih waspada dalam penggunaan peralatan rumah tangga, khususnya yang berpotensi memicu api.

“Ketika meninggalkan rumah, jangan sampai kompor dalam keadaan hidup. Pastikan juga tidak ada penggunaan peralatan elektronik dalam satu steker secara berlebihan karena bisa menimbulkan panas,” katanya.

Ia juga mengingatkan warga untuk mencabut peralatan listrik saat bepergian serta menyediakan alat pemadam api ringan (APAR) di rumah dan kendaraan sebagai langkah antisipasi awal sesuai ketentuan peraturan daerah.

“Ini butuh kesadaran juga dari warga Kota Bandung untuk mendukung dan menolong dalam merespon setiap kejadian kedaruratan,” kata Immanuel.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *