Wednesday, September 23News That Matters

Kota Bandung Diprediksi Masuk Kemarau pada Juni 2026, Begini Rinciannya


WACANA BERITA –Sebagian besar wilayah di Jawa Barat (Jabar) diprediksi mengalami musim kemarau lebih awal, lebih kering, dan lebih panjang dibanding normal pada tahun 2026. Hal ini disampaikan Koordinator UPT Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jabar, Teguh Rahayu.

“Diprediksi sekitar bulan April-Juni akan mulai secara bervariasi dan bertahap memasuki musim kemarau dengan sifat hujan bawah normal yang berarti lebih kering dari biasanya. Selain itu, awal musim kemarau di Jawa Barat diprediksi maju daripada kondisi normalnya yang mengindikasikan bahwa kemarau akan lebih panjang,” kata Teguh, dalam agenda konferensi pers daring Prediksi Musim Kemarau 2026 Provinsi Jawa Barat, Selasa (14/4/2026).

Secara rinci, BMKG memprediksi sebanyak 27 dari 41 zona musim (ZOM) di Jabar (66 persen)
akan mengalami musim kemarau lebih awal pada 2026 dibandingkan kondisi normal atau rata-rata dalam 30 tahun terakhir. Prediksi di sebagian besar wilayah menunjukkan awal musim kemarau 2026 akan terjadi pada bulan Mei (56 persen).

Persib vs Dewa United: Rekor Berpihak ke Maung Bandung, Tapi Ancaman Nyata Mengintai dari Banten Warriors

Kemarau tahun ini juga diprediksi lebih kering karena sifat hujan berada di bawah normal. Hal ini diprediksi terjadi di 38 ZOM atau 93 persen wilayah di Jabar. Sementara itu, puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah diprediksi terjadi pada bulan Agustus yakni sebanyak 37 ZOM atau 90 persen.

Kemudian, durasi musim kemarau 2026 di sebagian besar wilayah diprediksi lebih panjang dari normalnya yakni sebanyak 33 ZOM atau 81 persen. Secara umum, musim kemarau diprediksi akan berlangsung selama 13-15 dasarian (1 dasarian setara 10 hari), yakni di 17 ZOM atau 42 persen.

*Prediksi Musim Kemarau Kota Bandung*
Kota Bandung, yang secara geografis terletak di jantung Provinsi Jabar, termasuk dalam ZOM 20 menurut klasifikasi BMKG. Selain Kota Bandung, ZOM 20 juga mencakup Kab. Bandung, Kab. Bandung Barat bagian timur, Kota Cimahi, serta sebagian kecil Kab. Sumedang bagian barat daya.

Secara umum, kondisi musim kemarau 2026 di Kota Bandung dan ZOM 20 sedikit berbeda dengan mayoritas wilayah di Jabar yang diprediksi datang lebih awal dan lebih panjang. Namun, untuk sifat hujan dan puncak musim kemarau, kondisinya diprediksi relatif sama.

Berikut prediksi BMKG terkait kondisi musim kemarau 2026 di Kota Bandung dan wilayah di ZOM 20:
– Awal musim: Juni (Dasarian I)
– Perbandingan awal musim terhadap normal: Mundur (2 Dasarian)
– Sifat hujan: Bawah normal
– Puncak musim: Agustus
– Perbandingan puncak musim terhadap normal: Sama
– Panjang musim: 14 Dasarian
– Perbandingan panjang musim terhadap normal: Lebih pendek 2 dasarian

Berikut prediksi BMKG terhadap kondisi musim kemarau 2026 di sebagian besar wilayah Jabar:
– Awal musim: Mei (Dasarian II)
– Perbandingan awal musim terhadap normal: Maju (1 Dasarian)
– Sifat hujan: Bawah normal
– Puncak musim: Agustus
– Perbandingan puncak musim terhadap normal: Sama
– Panjang musim: 14 Dasarian
– Perbandingan panjang musim terhadap normal: Lebih panjang 2 dasarian

*Imbauan Antisipasi Lintas Sektor*
BMKG mengimbau langkah antisipatif lintas sektor untuk menghadapi musim kemarau 2026 di Jabar yang diprediksi datang lebih awal, lebih kering, dan berlangsung lebih lama dari normal.

Di sektor sumber daya air, langkah yang disarankan meliputi optimalisasi waduk dan bendungan, percepatan pembangunan embung, serta penghematan air. Sementara di sektor pertanian, penyesuaian kalender tanam, penggunaan varietas tahan kekeringan, alih komoditas ke palawija, dan irigasi hemat air dinilai krusial untuk menekan risiko gagal panen.

BMKG juga mengingatkan peningkatan risiko bencana seperti kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan, sehingga kesiapsiagaan pemerintah daerah perlu diperkuat. Di sektor energi dan lingkungan, BMKG mengimbau untuk menjaga kapasitas air untuk PLTA, disertai penghematan energi dan pengendalian kualitas udara akibat potensi asap. Sementara dari sisi kesehatan, antisipasi peningkatan ISPA, edukasi hidrasi, serta pengawasan sanitasi juga dinilai penting.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *