
WACANA BERITA –Naiknya harga bahan bakar pesawat atau avtur imbas eskalasi konflik di Timur Tengah dinilai bisa memunculkan efek domino terhadap terhadap berbagai sektor di Indonesia, di antaranya sektor logistik dan pariwisata.
Pengamat ekonomi dari Universitas Pasundan (Unpas), Acuviarta Kurtubi, mengatakan efek tersebut bisa terjadi karena kenaikan harga avtur akan memicu peningkatan biaya operasional penerbangan.
“Efek lanjutannya bisa ke biaya logistik, kemudian juga kepada sektor pariwisata, karena harga tiket bisa jadi cukup tinggi kenaikannya,” kata Acuviarta saat dihubungi, Senin (6/4/2026).
Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) menaikkan harga avtur di berbagai bandara per 1 April 2026. Di Bandara Soekarno-Hatta (CGK) misalnya, harga avtur untuk penerbangan domestik periode 1-30 April 2026 menjadi sebesar Rp23.551, naik dari Maret 2026 yang sebesar Rp13.656 per liter, atau naik 72,46 persen.
Sementara, harga avtur untuk maskapai penerbangan internasional tercatat naik 91,78 persen dari sebesar 74,2 sen AS per liter pada Maret 2026 menjadi 142,3 sen AS per liter pada April 2026.
Acuviarta mengatakan, proporsi biaya avtur sendiri bisa mencapai 40 persen dari total biaya operasional penerbangan, sehingga perubahan harga bahan bakar tersebut akan langsung terefleksi pada tarif layanan udara.
Hal ini, kata dia, bisa berdampak salah satunya pada distribusi logistik, mengingat sektor ini masih cukup mengandalkan jalur udara.
“Industri logistik itu terganggu karena pasti ada kenaikan terkait dengan biaya logistik ini,” tuturnya.
Ia memprediksi tekanan biaya logistik ini juga akan menyebabkan penyesuaian harga pada sejumlah barang akibat ongkos angkut yang membengkak.
“Barang-barang yang mungkin terdampak itu elektronik, chip, perhiasan, sampai beberapa jenis buah-buahan yang menggunakan penerbangan khusus,” tambahnya.
Terkait barang-barang kebutuhan pokok, Acuviarta menilai situasi ini tidak akan terlalu berdampak, karena barang-barang tersebut tidak didistribusikan melalui jalur udara. Namun, ia mengingatkan potensi kenaikan harga tetap ada karena efek nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS yang melemah.
Selain itu, kenaikan harga avtur juga diperkirakan akan berdampak pada kenaikan harga tiket pesawat. Menurut Acuviarta, kenaikan harga tiket secara signifikan berpotensi menurunkan mobilitas masyarakat yang kemudian berimbas pada kelesuan industri wisata di berbagai daerah.
“Yang kelihatannya bakal terpengaruh adalah sektor pariwisata ini, terutama terkait dengan kunjungan wisatawan. Karena ini kan ada kaitannya dengan potensi penurunan mobilitas masyarakat yang menggunakan jasa penerbangan udara,” tuturnya.
Menyikapi dampak tersebut, Acuviarta mendorong pemerintah agar segera merumuskan kebijakan intervensi yang tepat guna melindungi daya beli masyarakat dan keberlangsungan industri.
Langkah ini bisa berupa pemberian insentif pada komponen biaya lain di luar bahan bakar maupun pertimbangan subsidi pada tingkat tertentu.
“Harus ada insentif pengurangan ongkos, terutama terkait operasional bandara atau sewa-menyewa operasional di sana. Menurut saya, perlu juga dilihat agar kenaikannya tidak sebesar itu dengan cara diberikan subsidi oleh pemerintah,” pungkasnya.
