
WACANA BERITA –Kondisi Bendungan Kali Cibuaya di Desa Jati Raga, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, menjadi sorotan. Kepala Desa Jati Raga, Carsidik (56), menyebut bendungan yang berperan vital bagi pengairan sawah warga itu mengalami kerusakan parah dan belum pernah mendapatkan perbaikan besar selama puluhan tahun.
Menurut Carsidik, bendungan tersebut merupakan infrastruktur penting yang menopang ketahanan pangan di wilayahnya. Terlebih, air dari bendungan ini menjadi sumber utama irigasi bagi sejumlah desa sekitar, seperti Jati Raga, Jati Tengah, Jatitujuh, Babajurang, Sumber Wetan, dan Sumber Kulon.
“Sudah puluhan tahun tidak ada perbaikan skala besar. Perawatan ada, tapi perbaikan nol besar,” ujarnya, Rabu 25/3/2026.
Ia menjelaskan, pihak desa telah berulang kali mengajukan permohonan perbaikan kepada berbagai instansi pemerintah, mulai dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), pemerintah kabupaten, provinsi, hingga kementerian terkait. Namun hingga kini, belum ada realisasi perbaikan yang konkret.
“Pengajuan sudah dilakukan ke berbagai pihak, hasilnya nihil. Baru kalau terjadi bencana besar, kemungkinan pemerintah turun tangan,” ungkapnya.

Peran Pemerintah Dinilai Belum Maksimal
Dalam konteks ini, Carsidik menilai peran pemerintah masih belum optimal, terutama dalam merespons kebutuhan infrastruktur dasar yang berdampak langsung pada sektor pertanian. Padahal, bendungan tersebut menjadi tulang punggung irigasi, khususnya saat musim kemarau.
Ia menegaskan, kewenangan perbaikan bendungan berada di tangan pemerintah, baik melalui BBWS maupun pemerintah daerah, karena proyek tersebut masuk kategori infrastruktur besar yang tidak bisa dibiayai melalui dana desa.
“Kami sudah siap, warga pun mendukung untuk gotong royong. Tapi aturan tidak memperbolehkan penggunaan dana desa untuk proyek bendungan,” katanya.
Harapan untuk Ketahanan Pangan
Carsidik berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret, mengingat pentingnya bendungan tersebut dalam mendukung program ketahanan pangan nasional. Ia menilai, perbaikan tidak hanya sekadar tambal sulam, tetapi harus mencakup normalisasi bendungan secara menyeluruh.
“Presiden sudah menyuarakan soal ketahanan pangan. Bendungan ini harus diperbaiki, dinormalisasi, dirapikan kiri-kanannya, termasuk jembatan agar bisa menampung air yang cukup untuk sawah yang kekeringan,” tegasnya.
Warga pun kini hanya bisa berharap adanya percepatan realisasi dari pemerintah, agar kerusakan bendungan tidak semakin parah dan mengancam produktivitas pertanian di wilayah tersebut.
