
WACANA BERITA – Persoalan sampah kini menjadi salah satu tantangan serius di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Garut. Permasalahan ini tidak hanya dipicu oleh keterbatasan infrastruktur pengelolaan sampah, tetapi juga rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah dan mengolah sampah rumah tangga.
Wakil Bupati Garut Putri Karlina menegaskan bahwa penanganan sampah tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH), melainkan menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Putri saat menghadiri kegiatan Inspirational Talk Green Ramadan yang digelar di Pendopo Kabupaten Garut, Jalan Kiansantang, dengan melibatkan Dinas Lingkungan Hidup, mahasiswa, serta komunitas pecinta lingkungan, baru-baru ini.
“Pengelolaan sampah bukan hanya tugas Dinas Lingkungan Hidup, tetapi tanggung jawab kita semua sebagai masyarakat yang menghasilkan sampah,” ujar Putri kepada wartawan.
Dalam kesempatan itu, Putri mengaku menangkap sejumlah kritik dari masyarakat terkait pengelolaan sampah oleh pemerintah. Namun menurutnya, kritik tersebut menjadi masukan penting bagi pemerintah daerah untuk terus memperbaiki sistem pengelolaan lingkungan.
“Hari ini saya mendukung kegiatan cinta lingkungan dan memberikan sudut pandang pemerintah. Ada juga kritik yang disampaikan, termasuk bagaimana pemerintah seharusnya mengelola sampah dengan lebih baik,” katanya.
Putri menjelaskan bahwa salah satu persoalan terbesar dalam pengelolaan sampah adalah sampah plastik yang membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai.
Menurutnya, plastik bahkan bisa bertahan jauh lebih lama dari usia manusia.
“Harapan hidup manusia sekitar 70 tahun, sementara sampah plastik bisa membutuhkan waktu hingga ratusan tahun untuk terurai. Bayangkan jika sampah terus menumpuk, tentu akan menjadi masalah besar bagi lingkungan,” jelasnya.
Ia juga menyinggung kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pasir Bajing yang harus menampung volume sampah dari berbagai wilayah di Garut.
“Kalau sampah terus menumpuk, tentu akan semakin menyulitkan pengelolaan di TPA Pasir Bajing,” tambahnya.
Pemerintah Kabupaten Garut, kata Putri, saat ini terus mendorong berbagai langkah pengurangan sampah, mulai dari pemilahan sampah di tingkat rumah tangga hingga kampanye pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.
Ia juga mengajak masyarakat untuk memulai langkah sederhana dalam mengurangi sampah, salah satunya dengan membawa botol minum sendiri.
“Mulai sekarang kalau mau minum, bawa tumbler dari rumah. Dengan begitu kita bisa mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai,” ujarnya.
Selain itu, masyarakat juga didorong untuk mulai memilah sampah agar sebagian di antaranya dapat didaur ulang menjadi produk baru.
“Pilah sampah yang masih bisa didaur ulang agar tidak semuanya berakhir di tempat pembuangan akhir,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Garut Jujun Juansyah Nurhakim turut mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kondisi lingkungan.
Ia menegaskan bahwa perubahan besar dalam pengelolaan sampah harus dimulai dari langkah kecil di tingkat individu.
“Pedulilah terhadap lingkungan hidup dan mulailah dari diri sendiri, dari hal yang paling kecil, mulai dari sekarang,” pungkasnya.
