Saturday, September 19News That Matters

Perjuangan 23 Tahun Ayi Beutik Satukan Bobotoh–Bonek Terancam Retak, Mia: Naha Jadi Kie?


WACANA BERITA – Insiden kekerasan yang menimpa di Surabaya usai laga pekan ke-24 antara Persib Bandung kontra Persebaya Surabaya, Senin (2/3/2026), memantik keprihatinan mendalam dari , istri almarhum Ayi Beutik.

Bagi Mia, kejadian tersebut bukan sekadar insiden biasa. Ia melihat ada nilai besar yang terancam runtuh—yakni perjuangan panjang almarhum suaminya dalam menjembatani hubungan dua kelompok suporter besar di Indonesia: Bobotoh dan Bonek.

Ayi Beutik dikenal sebagai salah satu tokoh Bobotoh sekaligus pendiri komunitas Viking Persib Club (VPC). Dalam sejarah panjang rivalitas dua klub sarat gengsi ini, Ayi disebut menjadi salah satu figur yang berani membuka komunikasi saat hubungan kedua basis suporter berada di titik panas.

Struktur Insan dan Jadwal Buka Puasa Bandung 5 Maret 2026

Dalam pernyataannya, Mia mengenang bagaimana suaminya dulu melakukan perjalanan ke Surabaya dengan risiko tinggi demi membuka pintu pertemanan.

“Saya teringat betul perjuangan Mang Ayi sejak dulu. Bahkan sejak anak kami masih bayi, beliau melakukan perjalanan ke Surabaya dengan risiko tinggi demi membuka pintu pertemanan,” tulis Mia.

Upaya menyatukan dua kubu suporter itu tidak terjadi dalam semalam. Menurut Mia, hubungan yang mulai mencair dibangun melalui proses panjang hampir 23 tahun—penuh komunikasi, kepercayaan, dan komitmen untuk mengakhiri permusuhan.

Namun kini, melihat kembali adanya insiden fisik yang menimpa Bobotoh di Surabaya, Mia tak bisa menyembunyikan kekecewaannya.

“Naha jadi kieu?” tulisnya, mempertanyakan kenapa situasi kembali memanas.

Insiden yang terjadi usai pertandingan Liga 1 itu disebut membuat sejumlah Bobotoh menjadi korban kekerasan. Peristiwa ini memunculkan kembali trauma lama dalam rivalitas dua suporter yang sejatinya sempat mencair dalam beberapa tahun terakhir.

Mia menegaskan, rivalitas dalam sepak bola seharusnya hanya berlangsung selama 90 menit di lapangan.

“Jika memang tidak bisa lagi akrab seperti dulu, setidaknya jangan menjadi musuh yang saling menyiksa dan mencelakai,” tulisnya.

Ia juga mengingatkan bahwa konflik antar-suporter kerap memakan korban, baik fisik maupun materi. Padahal, menurutnya, komunikasi personal antar-individu suporter sebenarnya masih berjalan baik.

Sebagai sosok yang menyaksikan langsung perjalanan suaminya dalam membangun jembatan damai, Mia mengaku sedih melihat konflik seperti menjadi siklus yang terus berulang.

Ia mengingatkan agar ego dan emosi sesaat tidak menghancurkan pengorbanan yang sudah dibangun selama lebih dari dua dekade.

“Jangan sampai pengorbanan dan usaha keras yang sudah dibangun selama 23 tahun terakhir ini hilang begitu saja karena ego yang terus berulang,” tegasnya.

Pernyataan Mia menjadi refleksi mendalam di tengah dinamika panas rivalitas Bobotoh dan Bonek. Bahwa sepak bola, pada akhirnya, bukan tentang siapa yang paling keras, melainkan siapa yang paling dewasa menjaga nilai persaudaraan.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *