Wednesday, September 23News That Matters

Banjir Hari ke-6 di Derwati, Warga Desak Solusi Konkret Pemerintah


WACANA BERITA – Sudah sekitar 6 hari, banjir yang menggenangi kawasan Derwati, khususnya RW 03 Kel. Rancabolang, Kec. Gedebage, Kota Bandung, belum juga surut. Warga berharap adanya solusi konkret dari pemerintah untuk mengatasi masalah banjir tahunan ini.

Berdasarkan pantauan Koranmandala di lokasi pada Kamis (16/4/2026) sekitar pukul 12.00 WIB, genangan air setinggi mata kaki hingga betis orang dewasa tampak masih memenuhi ruas jalan dan sejumlah halaman rumah warga.

Warga setempat berlalu lalang sambil mengangkat atau menggulung bagian bawah celananya, beberapa di antaranya berjalan menggunakan sepatu boot untuk menerjang air. Tampak anak-anak sekolah juga dituntun orang tuanya melintasi jalan yang tergenang air.

Banjir Bandung Meluas, Tanggul Jebol di Banjaran Telan Korban Jiwa

Ketua RW 03, Neni, mengatakan banjir mulai menggenangi wilayah tersebut sejak Jumat (10/4/2026) dan mencapai puncaknya pada Selasa (14/4/2026).

“Paling parah 2 hari ke belakang, airnya paling tinggi, hampir sepusar, terutama di daerah RT 03 dekat masjid dan TK,” kata Neni saat dijumpai di lokasi.

Ia menyebut genangan banjir terjadi di seluruh wilayah RW 03 yang berisi sekitar 306 kepala keluarga (KK). Kondisi ini, lanjutnya, menyebabkan banyak aktivitas warga terganggu, terutama kegiatan pendidikan dan pekerjaan.

“Anak-anak sekolah pakai perahu ke depan. Terus yang kerjanya jauh, kadang-kadang pas harian terbesar banjir mungkin pada izin, nggak bisa keluar, motor juga kan nggak bisa jalan,” ucapnya.

Ia mengungkapkan banjir di wilayah tersebut telah terjadi berulang dan seakan telah menjadi fenomena tahunan. Namun, banjir kali ini menurutnya menjadi yang paling parah.
Tahun lalu, fenomena yang sama terjadi sekitar awal bulan Maret dan berlangsung selama 2 minggu.

“Dikirain yang paling parah tuh tahun kemarin, tapi ternyata sekarang paling parah,” tuturnya.

Neni berharap ada langkah konkret yang dilakukan pemerintah dalam mengatasi banjir hingga ke akar permasalahannya. Ia berpendapat normalisasi aliran sungai di sekitar wilayah tersebut bisa menjadi salah satu solusi.

Ketua RW 03 Rancabolang, Neni (kiri), dan Wakil Ketua RW 03 Rancabolang, Endah Hasanah (kanan)
Ketua RW 03 Rancabolang, Neni (kiri), dan Wakil Ketua RW 03 Rancabolang, Endah Hasanah (kanan)

“Solusi gak ada dari dulu, mungkin kayaknya kalau Citarum dikeruk, diperdalam dan sungai-sungai yang ke sananya juga. Karena di sini kalau Citarum penuh udah ga bisa ke situ, air ke sini semua,” bebernya.

Sementara itu, bantuan logistik telah mulai disalurkan kepada warga terdampak. Di halaman rumah Neni, tampak puluhan kantong berisi sembako hingga nasi kotak berjejer siap untuk diambil warga. Ia menyebut bantuan itu datang beberapa hari setelah banjir terjadi.
“Ini bantuan dari pemerintah, yang pakai barcode. Ada sembako, beras, mie, nasi kotak dari kelurahan dan Dinas Sosial,” katanya.

Wakil Ketua RW 03, Endah Hasanah, yang juga berada di lokasi, menyoroti masalah serupa. Ia yang juga berprofesi sebagai guru mengatakan proses belajar mengajar terpaksa dilakukan dari rumah karena kondisi banjir yang menghambat akses siswa ke sekolah.

“Saya juga guru, jadi pembelajaran jarak jauh (PJJ) terus, soalnya anak-anak juga gak mau masuk sekolah karena kendalanya banjir terus aksesnya ketutup,” ujarnya.

Ditanya soal penyebab banjir, Endah menduga perubahan tata lingkungan imbas proyek pembangunan skala besar seperti Summarecon dan kereta api cepat di sekitar wilayah tersebut turut berkontribusi terhadap munculnya fenomena tahunan ini.

Menurutnya, sebelum adanya pembangunan tersebut, wilayah RW 03 termasuk yang paling aman dari banjir.

“Kayaknya (karena pembangunan) Summarecon, yang pertama banjir itu awalnya dikira banjir biasa. Nah terus ke sini-sini ada (proyek) kereta api cepat, udah itu baru (alirannya) ketutup,” ungkapnya.

“Dulu mah nggak pernah banjir, paling aman kita tuh. Sapan banjir, kita aman. Tapi sekarang gini lah, kita udah pasti tiap tahun banjir,” tambah Endah.

Ia pun berharap ada aksi nyata dari pihak-pihak berwenang untuk membantu menangani persoalan ini. Salah satunya, Endah mengusulkan agar seluruh warga di wilayah itu diberi bantuan dana untuk meninggikan rumah.

“Kalau bisa misalnya satu KK dapat bantuan Rp10 juta buat ninggiin rumah, tapi semua harus. Soalnya kalau perorangan ditinggiin, jalan ikut tinggi terus. Jadi percuma, saya juga udah ditinggiin sampai tujuh bata, tapi kemarin masih kemasukan air,” katanya.

Endah juga menyoroti bahwa meskipun banyak pihak yang sudah datang memantau kondisi, solusi konkret tak pernah dirasakan.

“Udah ada pejabat dari kelurahan, kecamatan, partai, dewan, datang ke sini, tapi nggak ada solusi dari dulu,” pungkasnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *