
Harga telur di tingkat peternak sempat merosot hingga Rp21.000 per kilogram di tengah tingginya produksi. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena pasokan yang melimpah belum sepenuhnya terserap pasar.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya telah melaporkan persoalan harga telur tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat kabinet paripurna pekan lalu. Menurut Amran, jumlah produksi yang berlebihan membuat harga di tingkat peternak terus mengalami tekanan.
Pemerintah pun berupaya meningkatkan penyerapan telur melalui sejumlah langkah. Salah satunya dengan meminta Badan Gizi Nasional (BGN) meningkatkan frekuensi konsumsi telur dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Jika sebelumnya telur diberikan satu kali dalam sepekan, pemerintah mendorong frekuensi tersebut menjadi dua hingga tiga kali dalam sepekan. Langkah ini diharapkan dapat membantu menyerap kelebihan produksi sekaligus menjaga harga di tingkat peternak.
Selain melalui program MBG, pemerintah juga melakukan koordinasi untuk mendorong ekspor telur. Upaya tersebut ditempuh agar pasokan yang tersedia tidak hanya bergantung pada penyerapan di pasar domestik.
Namun, berbagai langkah tersebut belum sepenuhnya mengatasi persoalan kelebihan produksi. Amran menyebut jumlah telur yang dihasilkan masih berlimpah sehingga harga di tingkat peternak tetap mengalami penurunan.
Di sisi lain, pemerintah justru menemukan kondisi berbeda ketika memantau harga di tingkat konsumen. Harga telur dan ayam di pasar disebut meningkat meskipun harga di tingkat produsen mengalami penurunan.
Amran menilai perbedaan tersebut sebagai anomali yang perlu ditelusuri. Menurut dia, ketika harga di tingkat peternak turun, harga yang dibayarkan konsumen semestinya ikut menurun.
“Ini ada anomali. Harga di peternak turun, harga di konsumen naik, terjadi inflasi,” kata Amran dalam konferensi pers di Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (27/10/2026).
Ia menduga terdapat pihak yang tidak bertanggung jawab di balik ketidaksesuaian harga tersebut. Karena itu, Amran menyatakan persoalan tersebut perlu ditindaklanjuti agar penyebab kenaikan harga di tingkat konsumen dapat diketahui.
“Berarti ada pelaku yang tidak bertanggung jawab. Itu kita kejar,” ujarnya.
Amran juga meminta Bareskrim Polri memberi perhatian terhadap anomali harga telur dan ayam tersebut. Persoalan itu, kata dia, turut teridentifikasi dalam rapat mingguan perkembangan inflasi bersama Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian.
